Anomali satelit

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Ilustrasi satelit (sumbe Spaceflightnow.com)

Dewasa ini dan di masa depan satelit akan semakin dibutuhkan. Baik itu untuk komunikasi, pendidikan, penelitian, militer, dan lain-lain. Namun, aktivitas Matahari dapat mengakibatkan gangguan bahkan kerusakan pada satelit. Tahun ini Matahari diperkirakan berada pada puncak aktivitasnya di siklusnya yang ke-24. Bagaimana kaitan aktivitas Matahari dengan gangguan pada satelit tersebut?

Tulisan di bawah ini adalah tulisanku yang sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Buletin Cuaca Antariksa Vol. 2/No. 1, Jan-Mar 2013. Baca lebih lanjut

Phobos-Grunt akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Satelit Phobos-Grunt milik Rusia yang direncanakan menuju Phobos salah satu bulan planet Mars akhirnya jatuh ke Bumi. Karena diperkirakan tidak semua komponennya terbakar habis di atmosfer dan mengandung material berbahaya, banyak pihak yang memantau satelit ini termasuk LAPAN. Pemantauan di LAPAN dilakukan sejak 28 Desember 2011 hingga Phobos-Grunt dinyatakan jatuh di atas Samudera Pasifik (sebelum melintasi Ameriksa selatan) pada dini hari tanggal 16 Januari 2012.

Mengapa satelit ini gagal melaksanakan misinya dan bagaimana sejarah orbitnya hingga jatuh ke Bumi?

Baca lebih lanjut

ROSAT akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Maaf kalau tulisan ini agak basi. Tulisan ini saya maksudkan sebagai catatan singkat saya atas riwayat hidup satelit ROSAT milik Jerman yang  jatuh akhir bulan lalu. Satelit pengamat sinar-X ini dinyatakan jatuh di atas laut Andaman sebelum melewati Thailand.

Media tidak meliput ROSAT segencar UARS yang jatuh sebulan sebelumnya. Mungkin ukuran ROSAT yang lebih kecil ditambah popularitas DLR yang kalah dari NASA yang menjadi dua di antara penyebabnya (banyaknya peristiwa lain yang menarik di akhir Oktober 2011 mungkin juga jadi faktor). Padahal resiko adanya korban akibat jatuhnya ROSAT lebih besar.  Anyway, alhamdulillah, hingga kini tidak ada kabar adanya korban akibat peristiwa ini.

Baca lebih lanjut

Leonid 2001: Ancaman Serius bagi Satelit Buatan

Update 1 Feb 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Pernah melihat langsung hujan meteor? Kalau ya, saya kira pengalaman itu tidak akan terlupakan. Pertama kali saya menyaksikannya saat puncak hujan meteor Leonid pada 18-19 Nopember 2001 bersama teman-teman (khususnya Hendro Setyanto dan Mas Irfan) dan beberapa wartawan di Observatorium Bosscha. Diperkirakan 500 meteor Leonid teramati di Bosscha setelah dini hari 19 Nopember.

Gambar di samping ini menunjukkan kesan yang ditangkap ketika terjadi badai Leonid pada 13 Nop 1833. Kabarnya orang-orang di Washington pada ketakutan setengah mati saat itu.

Di samping keindahannya dan, kadang, kengeriannya, hujan meteor ternyata memang memiliki potensi merusak. Mau tahu kenapa? Baca lebih lanjut

Mengenal hujan meteor

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Sejak tanggal 6 kemarin hingga 10 Oktober ini sebagian manusia di Bumi berkesempatan baik menyaksikan salah satu dari 11 hujan meteor yang populer yakni hujan meteor Draconids (dikenal juga dengan nama Giacobinids). Kok cuma sebagian manusia? Lokasi arah kedatangannya (istilahnya radiant)  yang cukup jauh di utara ekuator (54 derajat) menjadikannya kurang cocok diamati bagi manusia yang tinggal agak jauh di selatan Bumi.

Puncak hujan meteor Draconids untuk tahun ini diperkirakan pada 8 Oktober 2011. Hujan meteor ini terjadi karena Bumi melewati kumpulan debu yang berasal oleh komet 21P/Giacobini-Zinner di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Apa sebenarnya hujan meteor itu? Baca lebih lanjut

Satu lagi satelit akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di akhir bulan ini diperkirakan sebuah satelit akan menyusul satelit UARS yang  jatuh pada Sabtu 24 September 2011. Satelit ini bernama ROSAT milik Jerman yang diluncurkan memakai roket Delta II milik Amerika Serikat pada 1 Juni 1990. Misi utama ROSAT (Roentgensatellit) adalah sebagai observatorium sinar-X karena itu komponen utamanya adalah sebuah teleskop sinar-X yang mampu mengamati radiasi soft-X ray (0.1 – 2.4 keV) dari berbagai sumber di alam semesta ini.

Dibanding UARS, ukuran ROSAT memang lebih kecil dan lebih ringan (2,4 ton berbanding 5,6 ton). Akan tetapi, karena teleskop sinar-X nya didesain tahan panas (agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik) akibatnya diperkirakan teleskop ini tidak habis terbakar di atmosfer ketika ROSAT jatuh ke Bumi dan menerjang bagian atmosfer yang relatif padat. Ini menyebabkan resiko adanya korban jiwa akibat ROSAT lebih tinggi yakni 1:2000 (berbanding 1:3200 pada UARS). Artinya, jika satelit semacam ROSAT ini jatuh sebanyak 2000 kali maka (berdasarkan perkiraan) akan ada 1 orang yang tertimpa serpihannya.

Bagaimana sejarah orbit satelit ini? Baca lebih lanjut

UARS akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Update 26 Oktober 2011: menyesuaikan dengan report terakhir dari Dephan Amerika Serikat pada 27 Sept 2011

Sekitar pukul 11:00 WIB pada Sabtu lalu,  24 September 2011, satelit UARS yang sudah menjadi sampah dinyatakan jatuh di atas Samudera Pasifik sebelum memasuki wilayah Kanada. Walaupun lokasi sekitar 26 serpihannya (akibat pecahnya satelit setelah re-entry) menghantam permukaan Bumi tidak dapat diketahui kecuali ada saksi yang menemukan, lokasi atmospheric re-entry yakni lokasi satelit jatuh hingga ketinggian sekitar 120 km dapat diperkirakan dengan cukup baik.

Bagaimana akhir hidup UARS dan riwayat orbitnya? Baca lebih lanjut

Satu lagi sampah antariksa akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Diperkirakan sebuah sampah antariksa milik Amerika Serikat akan jatuh pada 23 September 2011 (+/- 1 hari). Lokasi jatuhnya belum dapat diperkirakan (sangat tergantung pada waktu jatuhnya). Sampah ini adalah sebuah satelit yang tidak berfungsi lagi bernama UARS (Upper Atmosphere Research Satellite) yang dulunya digunakan untuk pengamatan atmosfer atas yang penting nilainya bagi studi iklim.

UARS berpotensi jatuh di wilayah Indonesia seperti sudah ditunjukkan oleh perangkat lunak pemantau otomatis benda antariksa Track-it yang dikembangkan di LAPAN. Hasil pemantauannya berikut informasi penting lainnya tentang benda jatuh di Indonesia dan upaya mitigasinya dapat dilihat di http://foss.dirgantara-lapan.or.id/orbit.

Walaupun kecil sekali kemungkinannya untuk menimbulkan korban, sebaiknya kita turut memantau benda ini. Jika jatuh di negara kita, sangat diharapkan agar warga yang menemukan pecahannya diharapkan segera melapor ke kepolisian terdekat yang akan mengamankan benda tersebut. Tim khusus dari LAPAN setelah mengkonfirmasi peristiwanya segera akan meninjau ke lokasi kejadian jika memang diperlukan.

Artikel terkait:

https://rachmanabdul.wordpress.com/2011/09/21/kondisi-sampah-antariksa-saat-ini/