Kisah dua benda jatuh pada 13 November 2015

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat di website Pemantauan benda jatuh LAPAN)

spacecraft reentry (sumber: howstuffworks.com)Pada tanggal yang sama yakni 13 November 2015 dua benda antariksa jatuh ke Bumi. Namun hanya satu yang ramai dibahas baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum karena identitasnya yang misterius dan keunikan orbitnya. Benda yang diberi nama WT1190F ini diyakini adalah benda buatan semacam bekas roket berukuran kecil hanya 1-2 meter. Uniknya, tidak ada yang mengetahui identitas benda ini termasuk Departemen Pertahanan US yang memiliki sistem pemantau benda antariksa buatan terbaik di dunia saat ini. Baca lebih lanjut

Pengamatan optik sampah antariksa yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

David-Blanchard1_stripAlhamdulillah, diseminasi Pengetahuan Sampah dan Benda Jatuh Antariksa tahun kedua telah terselenggara kemarin 4 Juni 2015 di Pusat Sains Antariksa, Bandung. Pada kegiatan tersebut saya ditugaskan sebagai salah satu narasumber dengan materi terkait prinsip pengamatan optik dan analisis astrometri yang dilakukan di LAPAN. Materi yang saya berikan bisa diunduh di sini.

Kali ini saya ingin berbagi sebuah tulisan populer yang saya buat berjudul Pengamatan sampah antariksa yang akan jatuh pada jendela optik dan telah dimuat di Media Dirgantara LAPAN. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut

Space debris, Space weather, dan Near Earth Objects di Sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SSA (www.spacefoundation.org)Tiga aspek yang semakin penting dipahami terkait lingkungan di sekitar bumi adalah space debris, space weather (cuaca antariksa), dan near-earth objects (NEO). Space debris mencakup gangguan benda-benda buatan (sampah antariksa) dan alami (micrometeoroid) sedang space weather dan NEO  hanya mencakup gangguan benda-benda alami. Keberlangsungan misi keantariksaan bahkan keberlangsungan kehidupan di Bumi (demikian keyakinan sebagian orang) sangat bergantung pada kesadaran dunia internasional akan ketiga aspek yang menjadi komponen dari  Space Situational Awareness (SSA) ini. Baca lebih lanjut

Populasi sampah antariksa menjelang puncak siklus 24 Matahari

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

space junk (sumber NASA)Tahun ini dipercaya Matahari akan mencapai puncak aktivitasnya di siklus ke-24. Salah satu efek yang ditimbulkannya adalah meningkatnya jumlah benda jatuh antariksa buatan sehingga dapat memperkecil populasi sampah antariksa.

Meski demikian, dugaan bahwa puncak aktivitas Matahari kali ini akan lebih kecil dibanding puncak siklus 23 dan landainya akhir siklus tersebut ditambah dengan kemungkinan terjadinya serpihan baru karena tubrukan antar benda (dan beberapa alasan lain) menimbulkan pertanyaan seberapa signifikan pengurangan populasi sampah antariksa di tahun 2013 ini. Itu pun jika betul terjadi pengurangan. Baca lebih lanjut

Pemantauan benda jatuh antariksa

Update 14 Agustus 2013: penambahan tautan baru di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Buletin Cuaca Antariksa Vol 2/No.2 Apr-Jun 2013)

spacecraft-re-entry-4Benda jatuh antariksa bisa dikategorikan ke dalam dua jenis: alami dan buatan. Benda jatuh alami disebut meteoroid. Meteoroid bisa berupa asteroid atau pecahannya atau debu-debu dari komet yang melintas dekat Matahari. Jika meteoroid jatuh dalam jumlah banyak maka terjadilah hujan meteor. Meteoroid yang sampai ke permukaan Bumi karena tidak habis terbakar di atmosfer disebut meteorit. Adapun benda jatuh buatan bisa berupa satelit, bekas roket, atau pecahan satelit atau roket. Baca lebih lanjut

Sampah antariksa di sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Sidang ke-49 Subkomite Ilmiah dan Teknik (STSC) Komite PBB tentang Penggunaan Antariksa untuk Tujuan Damai (UNCOPUOS) telah berakhir pada 17 Februari lalu. Masalah sampah antariksa (space debris) dibahas secara khusus pada tanggal 8, 9, dan 10 Februari (tiap hari sidang terdiri dari dua sesi: pagi dan sore). Semua presentasi teknis bisa diunduh di website STSC-UNCOPUOS 2012.

Sayang sekali materi tentang aktivitas mitigasi sampah antariksa di Indonesia belum sempat disampaikan pada sidang kali ini. Semoga materi ini tampil nanti manakala kontribusi kita sebagai bangsa terkait sampah antariksa sudah lebih baik lagi. Untuk  itu dibutuhkan visi dan kesungguhan mencapai visi tersebut.

Baca lebih lanjut

Space debris mitigation guidelines

Update 30 Jan 2012: penambahan bantuan analisis dengan NASA DAS

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Tiga satelit berukuran besar yang jatuh dalam 5 bulan terakhir (UARS, ROSAT, dan Phobos-Grunt) adalah contoh sampah antariksa (space debris) yang mengalami reentry. Masih banyak resiko jenis lain yang mungkin ditimbulkan sampah antariksa sehingga dunia pun semakin mencemaskan perkembangan sampah ini.

Baca lebih lanjut

Perkembangan sampah antariksa di 2011

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Dua satelit besar yakni UARS dan ROSAT jatuh menjelang akhir 2011.  Keduanya bersama 492 sampah antariksa lainnya (yang berukuran di atas 10 cm) jatuh di tahun tersebut. Jika diasumsikan berat rata-rata satelit dan bekas roket adalah 500 kg sedang serpihan 1 kg maka berat total UARS (5.6 ton) dan ROSAT (2.4 ton) adalah 19% dari berat seluruh sampah antariksa yang jatuh (mengalami atmospheric reentry) ke Bumi.

Tahun 2011 ditandai dengan peningkatan aktivitas Matahari menuju puncaknya yang diperkirakan terjadi di pertengahan 2013. Adakah pengaruhnya terhadap populasi sampah antariksa di 2011? Baca lebih lanjut

Phobos-Grunt akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Satelit Phobos-Grunt milik Rusia yang direncanakan menuju Phobos salah satu bulan planet Mars akhirnya jatuh ke Bumi. Karena diperkirakan tidak semua komponennya terbakar habis di atmosfer dan mengandung material berbahaya, banyak pihak yang memantau satelit ini termasuk LAPAN. Pemantauan di LAPAN dilakukan sejak 28 Desember 2011 hingga Phobos-Grunt dinyatakan jatuh di atas Samudera Pasifik (sebelum melintasi Ameriksa selatan) pada dini hari tanggal 16 Januari 2012.

Mengapa satelit ini gagal melaksanakan misinya dan bagaimana sejarah orbitnya hingga jatuh ke Bumi?

Baca lebih lanjut

ROSAT akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Maaf kalau tulisan ini agak basi. Tulisan ini saya maksudkan sebagai catatan singkat saya atas riwayat hidup satelit ROSAT milik Jerman yang  jatuh akhir bulan lalu. Satelit pengamat sinar-X ini dinyatakan jatuh di atas laut Andaman sebelum melewati Thailand.

Media tidak meliput ROSAT segencar UARS yang jatuh sebulan sebelumnya. Mungkin ukuran ROSAT yang lebih kecil ditambah popularitas DLR yang kalah dari NASA yang menjadi dua di antara penyebabnya (banyaknya peristiwa lain yang menarik di akhir Oktober 2011 mungkin juga jadi faktor). Padahal resiko adanya korban akibat jatuhnya ROSAT lebih besar.  Anyway, alhamdulillah, hingga kini tidak ada kabar adanya korban akibat peristiwa ini.

Baca lebih lanjut