Faktor penting dalam pengamatan hujan meteor

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Sejak tanggal 16 hingga 25 April, Bumi memasuki kumpulan debu yang ditinggalkan oleh komet Thatcher. Kumpulan debu ini kemudian terbakar di atmosfer dan menimbulkan hujan meteor Lyrids. Puncaknya adalah sekitar malam ini hingga besok malam. Kondisi langit tanpa bulan saat ini memberikan momen yang pas untuk pengamatan visual.

Menyaksikan  langsung hujan meteor adalah pengalaman yang sangat berkesan. Jika kita beruntung, pada satu malam kita bisa melihat puluhan bahkan ratusan meteor di langit. Selain langit tanpa awan, faktor apa lagi sih yang memungkinkan kita melihat meteor dalam jumlah banyak?   Baca lebih lanjut

Iklan

Geminids: hujan meteor, asteroid, dan komet

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Diperkirakan tanggal 14 Desember 2011 besok menjadi puncak hujan meteor Geminid yang memasuki lingkungan Bumi sejak 4 Desember lalu hingga 17 Desember nanti.

Hujan meteor Geminid bukan hanya menarik karena seringkali menghadirkan lebih dari 100 meteor per jam (di saat puncaknya) setiap tahun namun juga karena ia membuka peluang studi lebih jauh tentang kaitan tiga komponen tata surya: hujan meteor, asteroid, dan komet.

Baca lebih lanjut

Hujan meteor dan induknya

Update 1 Feb 2012:

  • penambahan tautan di akhir tulisan
  • penjelasan parameter hujan meteor selain benda induk dipindahkan ke tulisan lain

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Hujan meteor terjadi akibat bertemunya Bumi dengan sekumpulan debu antar planet sehingga terjadi fenomena meteor ketika debu-debu tersebut masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar. Kumpulan debu tadi bisa berasal dari komet atau asteroid. Tabel berikut memperlihatkan induk (parent body, kolom terakhir) dan parameter penting lainnya untuk beberapa hujan meteor yang terkenal karena jumlahnya meteornya biasanya mencapai lebih dari 10 meteor per jam.

Artikel terkait:

Pengantar hujan meteor

Tautan:

Artikel tentang asal-usul Tata Surya di blog Pak Thomas Djamaluddin

Leonid 2001: Ancaman Serius bagi Satelit Buatan

Update 1 Feb 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Pernah melihat langsung hujan meteor? Kalau ya, saya kira pengalaman itu tidak akan terlupakan. Pertama kali saya menyaksikannya saat puncak hujan meteor Leonid pada 18-19 Nopember 2001 bersama teman-teman (khususnya Hendro Setyanto dan Mas Irfan) dan beberapa wartawan di Observatorium Bosscha. Diperkirakan 500 meteor Leonid teramati di Bosscha setelah dini hari 19 Nopember.

Gambar di samping ini menunjukkan kesan yang ditangkap ketika terjadi badai Leonid pada 13 Nop 1833. Kabarnya orang-orang di Washington pada ketakutan setengah mati saat itu.

Di samping keindahannya dan, kadang, kengeriannya, hujan meteor ternyata memang memiliki potensi merusak. Mau tahu kenapa? Baca lebih lanjut

Mengenal hujan meteor

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Sejak tanggal 6 kemarin hingga 10 Oktober ini sebagian manusia di Bumi berkesempatan baik menyaksikan salah satu dari 11 hujan meteor yang populer yakni hujan meteor Draconids (dikenal juga dengan nama Giacobinids). Kok cuma sebagian manusia? Lokasi arah kedatangannya (istilahnya radiant)  yang cukup jauh di utara ekuator (54 derajat) menjadikannya kurang cocok diamati bagi manusia yang tinggal agak jauh di selatan Bumi.

Puncak hujan meteor Draconids untuk tahun ini diperkirakan pada 8 Oktober 2011. Hujan meteor ini terjadi karena Bumi melewati kumpulan debu yang berasal oleh komet 21P/Giacobini-Zinner di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Apa sebenarnya hujan meteor itu? Baca lebih lanjut