Pengamatan optik sampah antariksa yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

David-Blanchard1_stripAlhamdulillah, diseminasi Pengetahuan Sampah dan Benda Jatuh Antariksa tahun kedua telah terselenggara kemarin 4 Juni 2015 di Pusat Sains Antariksa, Bandung. Pada kegiatan tersebut saya ditugaskan sebagai salah satu narasumber dengan materi terkait prinsip pengamatan optik dan analisis astrometri yang dilakukan di LAPAN. Materi yang saya berikan bisa diunduh di sini.

Kali ini saya ingin berbagi sebuah tulisan populer yang saya buat berjudul Pengamatan sampah antariksa yang akan jatuh pada jendela optik dan telah dimuat di Media Dirgantara LAPAN. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut

Buku Fenomena Cuaca Antariksa

Update 14 Juni 2015: penambahan tautan untuk mengunduh versi pdf dari website LAPAN

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

cover buku FCAAlhamdulillah, buku Fenomena Cuaca Antariksa edisi revisi berhasil diterbitkan Pusat Sains Antariksa LAPAN akhir tahun lalu. Seperti dikatakan Kepala Pusat Sains Antariksa dalam kata pengantar, buku ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang fenomena cuaca antariksa. Ini penting mengingat seringkali makna fenomena tersebut dikaburkan oleh pemberitaan di media yang terkesan sangat menakutkan.

Di bawah ini saya tampilkan beberapa halaman buku ini yang diikuti dengan Penutup yang saya tulis dalam kapasitas sebagai penyunting buku. Buku ini ditulis oleh Dyah Rahayu Martiningrum, Adi Purwono, Fitri Nuraeni, dan Johan Muhamad. Bagi yang berminat dengan buku ini mungkin bisa menghubungi Pusat Sains Antariksa LAPAN. Adapun versi digitalnya bisa diunduh dari website LAPAN. Baca lebih lanjut

Seputar penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di negara kita hingga saat ini terkadang masyarakat memulai dan mengakhiri ramadhan pada hari yang berbeda. Ini terutama dikarenakan penafsiran yang berbeda terhadap sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam terkait dengan hilal (sabit bulan penanda awal bulan). Di satu sisi ada yang menempatkan rukyat (melihat) hilal sebagai penentu di sisi lain ada yang mengganggap cukup dengan  hisab (menghitung) sehingga tidak perlu lagi melihat (observasi). Sebenarnya  ada jalan untuk mempertemukan kedua sisi ini kalau kita memang ingin seragam dalam hal ini.

Pada 30 Juli lalu, Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN (bidang saya) mengadakan diseminasi hasil penelitian hisab-rukyat di BPPR-LAPAN Pameungpeuk. Pada kesempatan itu saya diminta memberikan materi seputar penentuan awal bulan hijriah di Indonesia mulai dari prinsip penentuannya secara astronomi (materinya bisa diunduh di sini) hingga penyebab perbedaan dan solusi yang ditawarkan LAPAN untuk menyamakannya (ini penting untuk membuat kalender tunggal Hijriah di Indonesia; materinya bisa diunduh di sini).

Solusi yang paling mudah bagi masyarakat menyikapi perbedaan awal dan akhir Ramadhan adalah mematuhi keputusan menteri agama tentang ini. Akan tetapi, sebaiknya kepatuhan itu dilandasi ilmu bukan? Nah, materi yang saya buat bersama Pak Thomas Djamaluddin ini semoga mampu memberi sedikit pencerahan. Rekan-rekan yang ingin berdiskusi saya persilakan.