Space debris, Space weather, dan Near Earth Objects di Sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SSA (www.spacefoundation.org)Tiga aspek yang semakin penting dipahami terkait lingkungan di sekitar bumi adalah space debris, space weather (cuaca antariksa), dan near-earth objects (NEO). Space debris mencakup gangguan benda-benda buatan (sampah antariksa) dan alami (micrometeoroid) sedang space weather dan NEO  hanya mencakup gangguan benda-benda alami. Keberlangsungan misi keantariksaan bahkan keberlangsungan kehidupan di Bumi (demikian keyakinan sebagian orang) sangat bergantung pada kesadaran dunia internasional akan ketiga aspek yang menjadi komponen dari  Space Situational Awareness (SSA) ini. Baca lebih lanjut

Iklan

Space Weather Workshop 2013 di Boulder, Colorado

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SWW 2013Alhamdulillah, rencana mengikuti Space Weather Workshop di Boulder, Colorado tercapai juga bulan lalu. Rencana mengikuti workshop yang diadakan setahun sekali ini sebelumnya gagal karena keterlambatan keluarnya visa US tahun lalu. Seluruh biaya ditanggung oleh UCAR kecuali tiket pesawat oleh LAPAN.

Saya kira workshop di Boulder ini adalah workshop cuaca antariksa terbesar di dunia saat ini dan terlengkap topik pembahasannya. Banyak negara yang menyelenggarakan workshop semacam ini termasuk Indonesia (terakhir kali pada akhir Maret lalu). Baca lebih lanjut

Buku Fenomena Cuaca Antariksa

Update 14 Juni 2015: penambahan tautan untuk mengunduh versi pdf dari website LAPAN

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

cover buku FCAAlhamdulillah, buku Fenomena Cuaca Antariksa edisi revisi berhasil diterbitkan Pusat Sains Antariksa LAPAN akhir tahun lalu. Seperti dikatakan Kepala Pusat Sains Antariksa dalam kata pengantar, buku ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang fenomena cuaca antariksa. Ini penting mengingat seringkali makna fenomena tersebut dikaburkan oleh pemberitaan di media yang terkesan sangat menakutkan.

Di bawah ini saya tampilkan beberapa halaman buku ini yang diikuti dengan Penutup yang saya tulis dalam kapasitas sebagai penyunting buku. Buku ini ditulis oleh Dyah Rahayu Martiningrum, Adi Purwono, Fitri Nuraeni, dan Johan Muhamad. Bagi yang berminat dengan buku ini mungkin bisa menghubungi Pusat Sains Antariksa LAPAN. Adapun versi digitalnya bisa diunduh dari website LAPAN. Baca lebih lanjut

Anomali satelit

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Ilustrasi satelit (sumbe Spaceflightnow.com)

Dewasa ini dan di masa depan satelit akan semakin dibutuhkan. Baik itu untuk komunikasi, pendidikan, penelitian, militer, dan lain-lain. Namun, aktivitas Matahari dapat mengakibatkan gangguan bahkan kerusakan pada satelit. Tahun ini Matahari diperkirakan berada pada puncak aktivitasnya di siklusnya yang ke-24. Bagaimana kaitan aktivitas Matahari dengan gangguan pada satelit tersebut?

Tulisan di bawah ini adalah tulisanku yang sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Buletin Cuaca Antariksa Vol. 2/No. 1, Jan-Mar 2013. Baca lebih lanjut

Leonid 2001: Ancaman Serius bagi Satelit Buatan

Update 1 Feb 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Pernah melihat langsung hujan meteor? Kalau ya, saya kira pengalaman itu tidak akan terlupakan. Pertama kali saya menyaksikannya saat puncak hujan meteor Leonid pada 18-19 Nopember 2001 bersama teman-teman (khususnya Hendro Setyanto dan Mas Irfan) dan beberapa wartawan di Observatorium Bosscha. Diperkirakan 500 meteor Leonid teramati di Bosscha setelah dini hari 19 Nopember.

Gambar di samping ini menunjukkan kesan yang ditangkap ketika terjadi badai Leonid pada 13 Nop 1833. Kabarnya orang-orang di Washington pada ketakutan setengah mati saat itu.

Di samping keindahannya dan, kadang, kengeriannya, hujan meteor ternyata memang memiliki potensi merusak. Mau tahu kenapa? Baca lebih lanjut

Satu lagi satelit akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di akhir bulan ini diperkirakan sebuah satelit akan menyusul satelit UARS yang  jatuh pada Sabtu 24 September 2011. Satelit ini bernama ROSAT milik Jerman yang diluncurkan memakai roket Delta II milik Amerika Serikat pada 1 Juni 1990. Misi utama ROSAT (Roentgensatellit) adalah sebagai observatorium sinar-X karena itu komponen utamanya adalah sebuah teleskop sinar-X yang mampu mengamati radiasi soft-X ray (0.1 – 2.4 keV) dari berbagai sumber di alam semesta ini.

Dibanding UARS, ukuran ROSAT memang lebih kecil dan lebih ringan (2,4 ton berbanding 5,6 ton). Akan tetapi, karena teleskop sinar-X nya didesain tahan panas (agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik) akibatnya diperkirakan teleskop ini tidak habis terbakar di atmosfer ketika ROSAT jatuh ke Bumi dan menerjang bagian atmosfer yang relatif padat. Ini menyebabkan resiko adanya korban jiwa akibat ROSAT lebih tinggi yakni 1:2000 (berbanding 1:3200 pada UARS). Artinya, jika satelit semacam ROSAT ini jatuh sebanyak 2000 kali maka (berdasarkan perkiraan) akan ada 1 orang yang tertimpa serpihannya.

Bagaimana sejarah orbit satelit ini? Baca lebih lanjut