Kisah dua benda jatuh pada 13 November 2015

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat di website Pemantauan benda jatuh LAPAN)

spacecraft reentry (sumber: howstuffworks.com)Pada tanggal yang sama yakni 13 November 2015 dua benda antariksa jatuh ke Bumi. Namun hanya satu yang ramai dibahas baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum karena identitasnya yang misterius dan keunikan orbitnya. Benda yang diberi nama WT1190F ini diyakini adalah benda buatan semacam bekas roket berukuran kecil hanya 1-2 meter. Uniknya, tidak ada yang mengetahui identitas benda ini termasuk Departemen Pertahanan US yang memiliki sistem pemantau benda antariksa buatan terbaik di dunia saat ini. Baca lebih lanjut

Populasi sampah antariksa menjelang puncak siklus 24 Matahari

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

space junk (sumber NASA)Tahun ini dipercaya Matahari akan mencapai puncak aktivitasnya di siklus ke-24. Salah satu efek yang ditimbulkannya adalah meningkatnya jumlah benda jatuh antariksa buatan sehingga dapat memperkecil populasi sampah antariksa.

Meski demikian, dugaan bahwa puncak aktivitas Matahari kali ini akan lebih kecil dibanding puncak siklus 23 dan landainya akhir siklus tersebut ditambah dengan kemungkinan terjadinya serpihan baru karena tubrukan antar benda (dan beberapa alasan lain) menimbulkan pertanyaan seberapa signifikan pengurangan populasi sampah antariksa di tahun 2013 ini. Itu pun jika betul terjadi pengurangan. Baca lebih lanjut

Pemantauan benda jatuh antariksa

Update 14 Agustus 2013: penambahan tautan baru di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Buletin Cuaca Antariksa Vol 2/No.2 Apr-Jun 2013)

spacecraft-re-entry-4Benda jatuh antariksa bisa dikategorikan ke dalam dua jenis: alami dan buatan. Benda jatuh alami disebut meteoroid. Meteoroid bisa berupa asteroid atau pecahannya atau debu-debu dari komet yang melintas dekat Matahari. Jika meteoroid jatuh dalam jumlah banyak maka terjadilah hujan meteor. Meteoroid yang sampai ke permukaan Bumi karena tidak habis terbakar di atmosfer disebut meteorit. Adapun benda jatuh buatan bisa berupa satelit, bekas roket, atau pecahan satelit atau roket. Baca lebih lanjut

Perkembangan sampah antariksa di 2011

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Dua satelit besar yakni UARS dan ROSAT jatuh menjelang akhir 2011.  Keduanya bersama 492 sampah antariksa lainnya (yang berukuran di atas 10 cm) jatuh di tahun tersebut. Jika diasumsikan berat rata-rata satelit dan bekas roket adalah 500 kg sedang serpihan 1 kg maka berat total UARS (5.6 ton) dan ROSAT (2.4 ton) adalah 19% dari berat seluruh sampah antariksa yang jatuh (mengalami atmospheric reentry) ke Bumi.

Tahun 2011 ditandai dengan peningkatan aktivitas Matahari menuju puncaknya yang diperkirakan terjadi di pertengahan 2013. Adakah pengaruhnya terhadap populasi sampah antariksa di 2011? Baca lebih lanjut

Phobos-Grunt akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Satelit Phobos-Grunt milik Rusia yang direncanakan menuju Phobos salah satu bulan planet Mars akhirnya jatuh ke Bumi. Karena diperkirakan tidak semua komponennya terbakar habis di atmosfer dan mengandung material berbahaya, banyak pihak yang memantau satelit ini termasuk LAPAN. Pemantauan di LAPAN dilakukan sejak 28 Desember 2011 hingga Phobos-Grunt dinyatakan jatuh di atas Samudera Pasifik (sebelum melintasi Ameriksa selatan) pada dini hari tanggal 16 Januari 2012.

Mengapa satelit ini gagal melaksanakan misinya dan bagaimana sejarah orbitnya hingga jatuh ke Bumi?

Baca lebih lanjut

Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Bagi yang rajin mengikuti perkembangan berita di Indonesia baik itu lewat TV maupun internet, akan menyadari bahwa belakangan ini seringkali beredar berita-berita heboh terkait dengan “fenomena alam semesta”.  Mulai langit terbelah hingga satelit dan meteor jatuh (ini yang paling sering).

Sepertinya berita-berita ini banyak bermunculan setelah isu kiamat 2012 dihembuskan oleh beberapa orang/pihak di negeri ini. Karena isu ini dikaitkan dengan keantariksaan seperti aktivitas Matahari dan benda jatuh antariksa maka LAPAN sebagai lembaga resmi yang menangani keantariksaan di Indonesia sering diminta oleh berbagai pihak untuk memberi penjelasan. Ini tantangan bagi LAPAN untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat sekaligus peluang agar lebih dikenal.

(catatan: sebagian besar isi tulisan ini diambil dari tulisan sebelumnya berjudul “Menyongsong tahun baru 2012”)

Baca lebih lanjut

Hujan meteor dan induknya

Update 1 Feb 2012:

  • penambahan tautan di akhir tulisan
  • penjelasan parameter hujan meteor selain benda induk dipindahkan ke tulisan lain

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Hujan meteor terjadi akibat bertemunya Bumi dengan sekumpulan debu antar planet sehingga terjadi fenomena meteor ketika debu-debu tersebut masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar. Kumpulan debu tadi bisa berasal dari komet atau asteroid. Tabel berikut memperlihatkan induk (parent body, kolom terakhir) dan parameter penting lainnya untuk beberapa hujan meteor yang terkenal karena jumlahnya meteornya biasanya mencapai lebih dari 10 meteor per jam.

Artikel terkait:

Pengantar hujan meteor

Tautan:

Artikel tentang asal-usul Tata Surya di blog Pak Thomas Djamaluddin

Membaca lintasan benda yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Anda senang membaca? Jika ya, tidak usah khawatir kehabisan bahan karena pada dasarnya seluruh yang hadir di alam ini adalah bahan bacaan. Seorang muslim seharusnya selalu sadar pentingnya membaca karena ayat dari kitab sucinya yang pertama kali turun memotivasi aktivitas ini.  Bersyukurlah kita jika kita rajin membaca.

Kali ini saya ingin berbagi bahan bacaan yang tidak sepopuler bahan bacaan lainnya. Bacaan ini terkait dengan benda jatuh antariksa (lagi-lagi). Semoga bermanfaat paling tidak untuk menambah bahan bacaan kita.

Baca lebih lanjut

ROSAT akhirnya jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Maaf kalau tulisan ini agak basi. Tulisan ini saya maksudkan sebagai catatan singkat saya atas riwayat hidup satelit ROSAT milik Jerman yang  jatuh akhir bulan lalu. Satelit pengamat sinar-X ini dinyatakan jatuh di atas laut Andaman sebelum melewati Thailand.

Media tidak meliput ROSAT segencar UARS yang jatuh sebulan sebelumnya. Mungkin ukuran ROSAT yang lebih kecil ditambah popularitas DLR yang kalah dari NASA yang menjadi dua di antara penyebabnya (banyaknya peristiwa lain yang menarik di akhir Oktober 2011 mungkin juga jadi faktor). Padahal resiko adanya korban akibat jatuhnya ROSAT lebih besar.  Anyway, alhamdulillah, hingga kini tidak ada kabar adanya korban akibat peristiwa ini.

Baca lebih lanjut

Peran LAPAN terkait benda jatuh antariksa

Tanggal 19 Oktober lalu terdengar kabar ada benda jatuh di Kabupaten Nunukan, Kaltim. Dugaan ini timbul dari bunyi ledakan dan lubang cukup besar yang ditimbulkan. Saya mengetahui ini dari Kepala BMKG Nunukan Pak Taruna Mona yang menelpon saya sore hari itu untuk menanyakan hal ini dan meminta bantuan LAPAN. Keesokan harinya baru diperoleh informasi bahwa peristiwa yang terjadi adalah ledakan bom milik TNI Angkatan Laut yang sedang melakukan latihan rahasia.

Apa saja yang dilakukan LAPAN terkait dengan benda jatuh antariksa? Jawabannya bisa diperoleh di sini. Bagaimana LAPAN menindaklanjuti kabar adanya benda jatuh antariksa? Jawabannya silakan baca di sini.