Merenungi Matahari sebagai makhluk Allah

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Melanjutkan tulisan saya berjudul Tidak ada yang diciptakan Allah sia-sia, saya mencoba membuat sebuah contoh untuk memperjelas maksudnya.

Mengambil Matahari sebagai contoh tampaknya menarik karena saat ini aktivitasnya semakin meningkat menjelang puncaknya (diperkirakan terjadi di pertengahan tahun depan). Banyak hikmah yang bisa kita gali dengan merenungi keberadaan Matahari (termasuk ledakan energi dan massa yang dihasilkannya) yang populer kita kenal dengan istilah badai Matahari.

Baca lebih lanjut

Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Bagi yang rajin mengikuti perkembangan berita di Indonesia baik itu lewat TV maupun internet, akan menyadari bahwa belakangan ini seringkali beredar berita-berita heboh terkait dengan “fenomena alam semesta”.  Mulai langit terbelah hingga satelit dan meteor jatuh (ini yang paling sering).

Sepertinya berita-berita ini banyak bermunculan setelah isu kiamat 2012 dihembuskan oleh beberapa orang/pihak di negeri ini. Karena isu ini dikaitkan dengan keantariksaan seperti aktivitas Matahari dan benda jatuh antariksa maka LAPAN sebagai lembaga resmi yang menangani keantariksaan di Indonesia sering diminta oleh berbagai pihak untuk memberi penjelasan. Ini tantangan bagi LAPAN untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat sekaligus peluang agar lebih dikenal.

(catatan: sebagian besar isi tulisan ini diambil dari tulisan sebelumnya berjudul “Menyongsong tahun baru 2012”)

Baca lebih lanjut

Satu lagi satelit akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di akhir bulan ini diperkirakan sebuah satelit akan menyusul satelit UARS yang  jatuh pada Sabtu 24 September 2011. Satelit ini bernama ROSAT milik Jerman yang diluncurkan memakai roket Delta II milik Amerika Serikat pada 1 Juni 1990. Misi utama ROSAT (Roentgensatellit) adalah sebagai observatorium sinar-X karena itu komponen utamanya adalah sebuah teleskop sinar-X yang mampu mengamati radiasi soft-X ray (0.1 – 2.4 keV) dari berbagai sumber di alam semesta ini.

Dibanding UARS, ukuran ROSAT memang lebih kecil dan lebih ringan (2,4 ton berbanding 5,6 ton). Akan tetapi, karena teleskop sinar-X nya didesain tahan panas (agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik) akibatnya diperkirakan teleskop ini tidak habis terbakar di atmosfer ketika ROSAT jatuh ke Bumi dan menerjang bagian atmosfer yang relatif padat. Ini menyebabkan resiko adanya korban jiwa akibat ROSAT lebih tinggi yakni 1:2000 (berbanding 1:3200 pada UARS). Artinya, jika satelit semacam ROSAT ini jatuh sebanyak 2000 kali maka (berdasarkan perkiraan) akan ada 1 orang yang tertimpa serpihannya.

Bagaimana sejarah orbit satelit ini? Baca lebih lanjut