Sampah Antariksa sebagai Isu Internasional

Abdul Rachman
Peneliti Sains dan Antariksa LAPAN

Tanpa mengingkari berbagai manfaat yang diperoleh dari eksplorasi yang dilakukannya di berbagai tempat, nampaknya sudah menjadi kebiasaan buruk umat manusia untuk mengotori tempatnya beraktivitas. Bukan hanya di daratan dan di lautan, ternyata di antariksa pun kita membuat dan membuang sampah. Lebih sering tidak pada tempatnya. Puluhan tahun kita melakukannya dan baru lah belakangan ini kita benar-benar menyadari resiko dari perbuatan buruk tersebut.

Populasi sampah antariksa di sekitar Bumi. Sumber: esa.int

Tulisan di bawah ini sebagian besar diambil dari tulisanku yang sebelumnya dimuat di situs web PPI Swiss & Liechtenstein pada 10 Mei 2020 dalam kapasitasku sebagai Peneliti Sains Antariksa di LAPAN dan Kandidat Doktor Astronomi di University of Bern, Swiss. Ada satu paragraf yang ditambahkan di akhir bagian Mengapa sampah antariksa menjadi isu internasional? yakni tentang benda jatuh antariksa.

Selamat membaca and.. keep your work area clean.

Baca lebih lanjut

Orbital Debris Quarterly News

Abdul Rachman
Peneliti Sains dan Antariksa LAPAN

Bagi yang berminat pada suatu permasalahan tentulah ketersediaan sumber informasi yang diberikan secara rutin dari pihak yang bisa dipercaya adalah sesuatu yang mendasar. Dalam isu sampah antariksa, salah satu sumber informasi ini adalah Orbital Debris Quarterly News (ODQN) yang diterbitkan oleh NASA. Publikasi ini terbit secara rutin 4 kali setahun sejak 1996 dalam format pdf yang bisa diunduh dari laman web Quarterly News NASA.

Tulisan kali ini berisi daftar tautan beberapa artikel dalam ODQN yang saya pilih dan saya susun dalam beberapa kelompok:

  • Related to population
  • Related to fragmentation
  • Related to reentry
  • Related to modeling
  • Related to observation
  • Related to measurement and hypervelocity impact test
  • Related to risk and collision avoidance
  • Related to mitigation
  • Related to remediation
  • Related to international organization
  • Related to publication
  • Other interesting articles

Artikel-artikel dalam daftar tersebut bisa didapatkan di dalam file pdf yang akan tampil setelah mengklik judul artikel yang dipilih. Bagi yang tertarik dengan isu sampah antariksa, saya jamin banyak artikel lain dalam file bersangkutan yang juga sangat menarik untuk dibaca.

Selamat membaca.

Baca lebih lanjut

Meteor jatuh dan petaka di Bumi: menanggapi kabar terjadinya Dukhan di Ramadan tahun ini

Abdul Rachman
Peneliti Sains dan Antariksa LAPAN

Belakangan ini cukup marak di media sosial diberitakan tentang akan terjadinya ad-dukhan (kabut tebal yang menyelimuti dunia ini) pada tanggal 15 Ramadan kali ini. Sebenarnya sudah banyak ustadz kita di Indonesia yang membahas ini dan memberikan kesimpulan bahwa berdasarkan telaah hadits, kabar itu tidak perlu dipercaya. Alasannya karena hadits yang dijadikan dalil adalah hadits palsu.

Ilustrasi asteroid yang jatuh ke Bumi.
Sumber: http://www.livescience.com.
Baca lebih lanjut

Merasakan Gerhana Matahari Total

Abdul Rachman
Peneliti Sains dan Antariksa LAPAN

Gerhana matahari total 9 Maret 2016 tinggal 20 hari lagi. Peristiwa ini sangat langka dan menarik khususnya bagi warga Indonesia karena tidak ada daratan negara lain yang dilintasi jalur totalitasnya selain negeri ini. Oleh karena itu, meski durasi totalitasnya hanya 3 menit (kalah jauh dibanding GMT 11 Juni 1983 yang mencapai lebih dari 5 menit) GMT kali ini menjanjikan sesuatu yang lebih bagi bangsa Indonesia.

Apa sih kira-kira yang kita rasakan jika mengalami gerhana matahari total? Selain adanya berbagai anomali yang dikesani mata dan telinga, tubuh pun akan merasakan cuaca yang lebih dingin akibat penurunan temperatur udara di sekitarnya. Jika dibatasi pada apa yang dikesani mata, saya kira tulisan berjudul The Experience of Totality dalam buku Totality: Eclipses of  the Sun karya Mark Littmann, Ken Willcox, dan Fred Espenak cukup baik mendeskripsikan perasaan ini. Berikut ini terjemahannya yang format pdf-nya dapat diunduh dari website LAPANBaca lebih lanjut

Kisah dua benda jatuh pada 13 November 2015

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat di website Pemantauan benda jatuh LAPAN)

spacecraft reentry (sumber: howstuffworks.com)Pada tanggal yang sama yakni 13 November 2015 dua benda antariksa jatuh ke Bumi. Namun hanya satu yang ramai dibahas baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum karena identitasnya yang misterius dan keunikan orbitnya. Benda yang diberi nama WT1190F ini diyakini adalah benda buatan semacam bekas roket berukuran kecil hanya 1-2 meter. Uniknya, tidak ada yang mengetahui identitas benda ini termasuk Departemen Pertahanan US yang memiliki sistem pemantau benda antariksa buatan terbaik di dunia saat ini. Baca lebih lanjut

Siklus lama puasa Ramadhan

Update 20 Juni 2015: tambahan tautan luar

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

fasting (sumber crossfitdublin.ie)Baru-baru ini seorang teman mem-posting grafik lama (durasi) puasa Ramadhan di beberapa kota di dunia dari lintang selatan hingga utara. Grafik itu menunjukkan bahwa kota Reykjavic di Islandia paling lama puasanya sedang Sydney di Australia paling cepat. Sumber grafik tersebut adalah The Huffington Post (www.huffingtonpost.com) yang mengawali artikelnya dengan kalimat “The holy month of fasting is a challenge for everyone observing Ramadan, but some Muslims have it harder than others.”

Apakah betul demikian? Baca lebih lanjut

Pengamatan optik sampah antariksa yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

David-Blanchard1_stripAlhamdulillah, diseminasi Pengetahuan Sampah dan Benda Jatuh Antariksa tahun kedua telah terselenggara kemarin 4 Juni 2015 di Pusat Sains Antariksa, Bandung. Pada kegiatan tersebut saya ditugaskan sebagai salah satu narasumber dengan materi terkait prinsip pengamatan optik dan analisis astrometri yang dilakukan di LAPAN. Materi yang saya berikan bisa diunduh di sini.

Kali ini saya ingin berbagi sebuah tulisan populer yang saya buat berjudul Pengamatan sampah antariksa yang akan jatuh pada jendela optik dan telah dimuat di Media Dirgantara LAPAN. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut

Cahaya sebagai Petunjuk

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

sumber: www.hdwallpaperpc.comTahukah Anda bahwa Majelis Umum PBB telah mencanangkan tahun 2015 ini sebagai tahun cahaya (International Year of Light, IYL)? Ini berarti PBB menyadari pentingnya membangkitkan kesadaran dunia internasional (global awareness) tentang bagaimana teknologi yang menggunakan cahaya mampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan menyediakan solusi atas berbagai permasalahan di bidang energi, pendidikan, pertanian, dan kesehatan.

Secara resmi, ada empat tema IYL tahun ini yaitu: science of light, light technology, light in nature, dan light and culture. Tulisan ini mengangkat tema lain yakni light and religion (dalam hal ini Islam) yang saya ajukan untuk dimuat di buku Tafsir Ilmi: Cahaya terbitan Kementerian Agama.  Baca lebih lanjut

Hisab awal Ramadhan dan Syawal 1436 H

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Ramadhan (sumber fatayat.or.id)Alhamdulillah, sebentar lagi insya Allah kita akan kembali memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga usia kita disampaikan pada momen yang sangat mulia ini dan kita memiliki kesanggupan untuk menghidupkannya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada Ramadhan kali ini insya Allah sebagian besar umat Islam di Indonesia akan memulainya serempak. Namun, ada kemungkinan (walau tipis berdasarkan pengalaman selama ini) kita akan mengakhirinya berbeda. Tulisan ini berisi hasil perhitungan (hisab) memakai perangkat lunak Accurate Times (untuk perhitungan global) dan MoonCalc (untuk perhitungan lokal di Pelabuhan Ratu).

Semoga bermanfaat. Baca lebih lanjut

Space debris, Space weather, dan Near Earth Objects di Sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SSA (www.spacefoundation.org)Tiga aspek yang semakin penting dipahami terkait lingkungan di sekitar bumi adalah space debris, space weather (cuaca antariksa), dan near-earth objects (NEO). Space debris mencakup gangguan benda-benda buatan (sampah antariksa) dan alami (micrometeoroid) sedang space weather dan NEO  hanya mencakup gangguan benda-benda alami. Keberlangsungan misi keantariksaan bahkan keberlangsungan kehidupan di Bumi (demikian keyakinan sebagian orang) sangat bergantung pada kesadaran dunia internasional akan ketiga aspek yang menjadi komponen dari  Space Situational Awareness (SSA) ini. Baca lebih lanjut