Buku Fenomena Cuaca Antariksa

Update 14 Juni 2015: penambahan tautan untuk mengunduh versi pdf dari website LAPAN

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

cover buku FCAAlhamdulillah, buku Fenomena Cuaca Antariksa edisi revisi berhasil diterbitkan Pusat Sains Antariksa LAPAN akhir tahun lalu. Seperti dikatakan Kepala Pusat Sains Antariksa dalam kata pengantar, buku ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang benar kepada masyarakat tentang fenomena cuaca antariksa. Ini penting mengingat seringkali makna fenomena tersebut dikaburkan oleh pemberitaan di media yang terkesan sangat menakutkan.

Di bawah ini saya tampilkan beberapa halaman buku ini yang diikuti dengan Penutup yang saya tulis dalam kapasitas sebagai penyunting buku. Buku ini ditulis oleh Dyah Rahayu Martiningrum, Adi Purwono, Fitri Nuraeni, dan Johan Muhamad. Bagi yang berminat dengan buku ini mungkin bisa menghubungi Pusat Sains Antariksa LAPAN. Adapun versi digitalnya bisa diunduh dari website LAPAN.

Daftar isi buku Fenomena Cuaca Antariksa.

Daftar isi buku Fenomena Cuaca Antariksa (klik gambar untuk diperbesar).

Aktivitas Matahari sebagai penggerak utama cuaca antariksa.

Aktivitas Matahari sebagai penggerak utama cuaca antariksa (klik gambar untuk diperbesar).

Pengertian magnetosfer dan kaitannya dengan cuaca antariksa.

Pengertian magnetosfer dan kaitannya dengan cuaca antariksa (klik gambar untuk diperbesar).

Pengaruh cuaca antariksa pada ionosfer.

Pengaruh cuaca antariksa pada ionosfer dan dampaknya (klik gambar untuk diperbesar).

Pengertian cuaca antariksa ekstrem.

Pengertian cuaca antariksa ekstrem (klik gambar untuk diperbesar).

Peran LAPAN dalam meminimalisasi dampak cuaca antariksa.

Peran LAPAN dalam meminimalisasi dampak cuaca antariksa (klik gambar untuk diperbesar).

 

Penutup

Fenomena cuaca antariksa sangat menarik dan penting untuk dipahami. Alam sejak awal telah menghadirkan berbagai fenomena yang menantang manusia untuk mengembangkan kapasitasnya lebih jauh lagi. Tiga fenomena yakni aurora, sunspot (bintik Matahari), dan pergeseran jarum kompas awalnya tidak diketahui keterkaitannya satu sama lain. Seiring berjalannya waktu dan perkembangan pengetahuan dan teknologi, akhirnya kita mengetahui bahwa aurora dan pergeseran jarum kompas sama-sama terkait dengan badai geomagnet yang terjadi karena adanya semburan plasma dari Matahari yang berinteraksi dengan magnetosfer Bumi. Bintik Matahari sendiri adalah indikator aktivitas Matahari. Semakin banyak dan kompleks bintik Matahari-nya maka semakin kuat semburan plasma yang mampu dilontarkan Matahari. Semakin kuat pula penampakan aurora dan pergeseran jarum kompas yang mungkin terjadi.

Manusia telah lama bergaul dengan alam dan mengenal sedikit banyak tabiatnya. Pada dasarnya kita tinggal di Bumi yang nyaman. Jauh lebih sering kita mendapati Bumi dalam keadaannya yang menyenangkan dibanding dalam keadaan “murka” dengan gempa bumi, gunung meletus, tsunami, dan sebagainya. Dan, ketika manusia dengan teknologi ruang angkasanya “menjauh” dari Bumi (dengan berbagai alasan), kita pun semakin mengenal alam ini. Semburan plasma (yang berisi partikel energetik) dan radiasi elektromagnetik mengisi ruang antarplanet dan dapat membahayakan misi luar angkasa dan astronotnya. Selain itu, semburan plasma yang kita kenal dengan CME (dan CIR) bisa juga mengakibatkan badai geomagnet yang bukan hanya dapat merusak teknologi di luar angkasa tapi juga di permukaan Bumi. Selanjutnya, badai geomagnet bisa mengakibatkan badai ionosfer yang mengganggu sinyal telekomunikasi.

Badai Matahari laksana bencana alam lainnya yang kadang kita temui di Bumi. Kebanyakan diantaranya berukuran kecil sehingga umumnya tidak berdampak apa-apa. Frekuensi bencana alam yang super besar sangat kecil. Beda cuaca antariksa dengan bencana alam lainnya adalah pengaruh langsung cuaca antariksa lebih ke teknologi. Badai Matahari, yang kita kenal, yang paling dahsyat sekalipun (seperti Carrington event) tidak mengakibatkan rumah-rumah dan gedung-gedung hancur, mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana tapi yang dipengaruhinya adalah teknologi modern yang mungkin kita gunakan sehari-hari. Jaringan listrik dan telekomunikasi (via telepon maupun internet) adalah dua contoh teknologi yang banyak digunakan secara langsung oleh masyarakat dan rawan gangguan cuaca antariksa (selain itu teknologi navigasi berbasis satelit juga semakin populer). Masalahnya adalah semakin hari kita semakin bergantung pada teknologi-teknologi tersebut sehingga kerusakannya sedikit banyak akan berdampak secara ekonomi dan sosial.

Potensi bencana akibat cuaca antariksa tidak perlu menghadirkan kecemasan yang berlebihan. Pertama, badai Matahari atau ledakan Matahari tidak menghancurkan seluruh Matahari karena hanya berupa ledakan di lokasi tertentu yang relatif kecil di Matahari. Kedua, tidak seorang pun tahu kapan badai Matahari super besar akan terjadi sehingga tidak ada alasan untuk mengkhawatirkan tanggal atau periode waktu tertentu. Yang dibutuhkan adalah pemahaman yang lebih baik tentang cuaca antariksa dengan memantaunya secara rutin dan mempersiapkan teknologi cadangan (khususnya terkait komunikasi yang sangat penting dalam keadaan darurat) yang tidak bergantung pada satelit dan ketersediaan listrik. Bagi yang tinggal di lintang rendah, resiko akibat cuaca antarika memang lebih kecil dibanding bagi mereka di lintang tinggi namun masalah yang timbul di lintang tinggi akan mengimbas ke lintang rendah karena faktor globalisasi. Pemantauan cuaca antariksa perlu dilakukan sepanjang waktu sebab resiko bukan hanya di puncak aktivitas Matahari. Lubang korona dan sinar kosmik yang turut mempengaruhi cuaca antariksa cenderung lebih kuat setelah puncak dan di masa minimum aktivitas Matahari.

Alam pada dasarnya diciptakan untuk manusia. Di alam itu manusia hidup dan beraktivitas dan dengan memahami berbagai fenomena alam termasuk cuaca antariksa manusia telah belajar banyak hal sehingga mampu meningkatkan kemaslahatan hidupnya. Sungguh beruntung seseorang yang dengan pemahamannya tentang alam menjadikan dia lebih bijak dan semakin mengenal penciptanya.

Artikel lain di blog ini:

Satu lagi satelit akan jatuh

Anomali satelit

Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

Merenungi Matahari sebagai makhluk Allah

Tautan luar:

Pusat Sains Antariksa (dan Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer)

NOAA Space Weather Prediction Center

NASA Integrated Space Weather Analysis System

Australian Radio dan Space Weather Services (IPS)

Korean Space Weather Center

DLR Space Weather Application Center – Ionosphere (SWACI)

Iklan

One comment on “Buku Fenomena Cuaca Antariksa

  1. Ping-balik: Space Weather Workshop 2013 di Boulder, Colorado | Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s