Faktor penting dalam pengamatan hujan meteor

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Sejak tanggal 16 hingga 25 April, Bumi memasuki kumpulan debu yang ditinggalkan oleh komet Thatcher. Kumpulan debu ini kemudian terbakar di atmosfer dan menimbulkan hujan meteor Lyrids. Puncaknya adalah sekitar malam ini hingga besok malam. Kondisi langit tanpa bulan saat ini memberikan momen yang pas untuk pengamatan visual.

Menyaksikan  langsung hujan meteor adalah pengalaman yang sangat berkesan. Jika kita beruntung, pada satu malam kita bisa melihat puluhan bahkan ratusan meteor di langit. Selain langit tanpa awan, faktor apa lagi sih yang memungkinkan kita melihat meteor dalam jumlah banyak?  

Setiap hujan meteor yang rutin terjadi setiap tahun memiliki jumlah maksimum secara teori. Jumlah maksimum yang dihitung per jam ini dianggap bisa terlihat pada kondisi ideal (langit cerah sempurna dan arah datangnya hujan meteor terletak tepat di atas kepala pengamat) yang diperoleh dari perhitungan. Parameter ini disebut Zenithal Hourly Rate (ZHR). ZHR selalu lebih besar daripada jumlah yang sebenarnya teramati.

Tabel berikut yang memperlihatkan karakteristik 9 hujan meteor yang rutin terjadi setiap tahun (ZHR berada di kolom 7).

Salah satu faktor penting yang mempengaruhi jumlah meteor yang teramati untuk suatu hujan meteor adalah deklinasi arah datang (radiant) hujan meteor tersebut (kolom 5 pada tabel di atas). Benda dengan deklinasi positif berarti lokasinya di sebelah utara ekuator Bumi sedang benda dengan deklinasi negatif berarti di selatan ekuator (lihat gambar berikut).

Bola langit untuk wilayah Bandung dan sekitarnya. Perhatikan ekuator yang berada 7° di utara zenith karena Bandung terletak di 7° LS.

Data radiant digunakan untuk mengetahui apakah di lokasi kita mungkin mengamati suatu hujan meteor dalam jumlah maksimumnya atau tidak. Untuk lokasi dengan lintang φ, radiant hujan meteor dengan deklinasi δ akan menempati posisi tertingginya di langit (mengalami kulminasi atas) pada ketinggian:

Pada formula ini tanda (+/-) pada lintang dan deklinasi harus dimasukkan.

Perhatikan gambar berikut ini untuk memahami pengertian ketinggian benda langit.

Posisi benda langit dapat dinyatakan dalam azimuth dan ketinggian (altitude). Azimuth dihitung dari arah utara searah jarum jam sedang ketinggian dihitung dari horizon ke arah zenit. Sumber: http://library.thinkquest.org

Karena meteor tampak memencar ke segala arah dari radiant maka semakin tinggi h_max maka semakin banyak meteor yang bisa teramati. Contoh, kita ingin mengamati hujan meteor Geminids dari Bandung.  Dari tabel kita ketahui bahwa deklinasi radiant Geminids adalah +33°. Lintang Bandung sekitar -7° maka kita peroleh h_max = 50°.  Berarti radiant Geminids tidak pernah lebih tinggi dari 50°.

Bagaimana dengan hujan meteor Lyrids?

Dari tabel kita ketahui bahwa deklinasi radiant Lyrids adalah +34° maka kita dapatkan h_max = 49°. Berarti, serupa dengan Geminids, pengamat di Bandung (umumnya Indonesia) hanya mampu mengamati Lyrids dalam jumlah yang jauh dari nilai maksimumnya. Hanya orang-orang di lintang tinggi sekitar 30° yang mungkin mengamati hujan meteor Lyrids dalam jumlah mendekati maksimum.

Artikel lain di blog ini:

Mengenal hujan meteor

Tautan:

Artikel tentang hujan meteor Lyrids 2012 di website langitselatan

Iklan

One comment on “Faktor penting dalam pengamatan hujan meteor

  1. Ping-balik: Mengenal hujan meteor | Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s