Ujian terberat dan nasihat terbaik

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Alhamdulillah, pada 8 hingga 12 Maret lalu saya dan keluarga berkesempatan ke Makassar. Bagi saya perjalanan kali ini cukup penting karena ini pertama kalinya istri dan anak saya ziarah ke kuburan ayah saya sejak beliau meninggal karena sakit 1 Nopember tahun lalu.

Di Makassar, kakak lelaki saya memperdengarkan sebuah ceramah tentang kematian yang saya kira penting untuk selalu kita ingat intinya. Pada tulisan ini saya ingin berbagi sebagian isi ceramah tersebut. Semoga bermanfaat bagi kita semua.

Dalam ceramahnya sang ustadz mengatakan bahwa ujian terberat yang dirasakan seorang mukmin di dunia ini adalah kematian. Alasannya karena kematian memisahkan kita dengan orang-orang yang kita cintai dan mustahil kita jumpai kembali di dunia ini. Beda dengan kehilangan harta, jabatan, dan sebagainya yang dengan usaha keras, insya Allah, bisa kita peroleh kembali (bahkan seringkali gantinya lebih baik).

Sang ustadz melanjutkan. Sebagaimana halnya ujian lainnya yang tingkat kesulitannya berbeda-beda tergantung kapasitas orangnya, begitu pun kematian. Semakin berat iman seseorang, semakin berat pula ujian kematian yang dialaminya. Karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berat imannya maka beliau pula lah yang merasakan ujian kematian yang paling berat. Sejarah menunjukkan ini. Sebelum lahir beliau telah ditinggal ayahnya, semasih bayi beliau telah ditinggal ibunya, semasa remaja beliau ditinggal kakeknya yang menjadi pengganti kedua orangtuanya, setelah menikah beliau ditinggal istrinya dan pamannya yang menjadi pembela beliau menghadapi kejahilan kaumnya, semua anak lelaki beliau (3 orang) meninggal sewaktu masih bayi, dan 4 anak perempuan beliau meninggal ketika kecil kecuali Fathimah Radhiyallahu ‘anha.

Sang ustadz kemudian mengingatkan agar kita senantiasa bersabar ketika ditimpa ujian kematian. Hendaknya kita selalu ingat bahwa kita ini berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya.

(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun". (QS 2: 156)

Karena pada hakikatnya semuanya adalah milik Allah SWT maka apa yang kita miliki termasuk nyawa adalah pinjaman dari Allah. Barang berupa pinjaman memiliki 2 arti: kapan saja ia bisa diambil oleh si pemilik dan kita tidak pantas pamer dengannya. Tidak bisa kita menolak jika panggilan ajal telah datang dan tidak pantas kita sombong dengan berbagai “kelebihan” yang kita miliki.

Sang ustadz melanjutkan. Selain sebagai ujian terberat, peristiwa kematian juga telah cukup sebagai nasihat bahwa kita suatu saat akan mati dan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita. Tidak perlu nasihat lainnya lagi. Nah, karena kematian tidak ada syaratnya (bukan usia tua, kesehatan, dan sebagainya) maka kita harus siap setiap saat. Semoga ketika kematian menjemput, kita sedang mengenakan pakaian yang terbaik yakni pakaian takwa.

Demikian sebagian ceramah beliau.

Saya kira umumnya kita sepakat bahwa kematian adalah ujian terberat di dunia ini. Di samping pedihnya hati akibat ditinggal orang-orang yang kita cintai, perihnya kematian akan kita rasakan ketika kita sendiri akan mati. Kita mengenal peristiwa sakaratul maut menjelang nyawa dicabut yang menurut berbagai keterangan sangat menyakitkan. Ibnu Abi Ad-Dunya rahimahullah meriwayatkan dari Syaddad bin Aus Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: “Kematian adalah kengerian yang paling dahsyat di dunia dan akhirat bagi orang yang beriman. Kematian lebih menyakitkan dari goresan gergaji, sayatan gunting, panasnya air mendidih di bejana. Seandainya ada mayat yang dibangkitkan dan menceritakan kepada penduduk dunia tentang sakitnya kematian, niscaya penghuni dunia tidak akan nyaman dengan hidupnya dan tidak nyenyak dalam tidurnya”.

Tentang sakitnya sakaratul maut, para nabi pun merasakannya. Bahkan Rasulullah Saw sebagai pemimpin para nabi dan kekasih Allah tampak sangat menderita menjelang kematiannya. Mengenai ini Aisyah ra. sampai berkata (menurut riwayat Tirmidzi), “Aku tidak iri kepada siapapun atas kemudahan kematian(nya), sesudah aku melihat kepedihan kematian pada Rasulullah”. Akan tetapi derita yang dirasakan orang-orang saleh menjelang kematiannya tentu saja berbeda dengan yang dirasakan oleh orang-orang kafir. Bagi orang saleh derita sakaratul maut bertujuan untuk menambah kemuliaannya dan menghapus kesalahannya sedangkan bagi pelaku maksiat derita itu adalah hukuman atas kejahatannya. Adalah wajar dalam Islam jika orang yang paling kuat imannya mendapatkan ujian (beban) yang paling berat.

Mudah-mudahan peristiwa kematian khususnya orang-orang yang kita cintai senantiasa menjadi nasihat bagi kita untuk mengisi hidup ini dengan berbagai kebaikan dan menjauhi berbagai keburukan. Gambar-gambar berikut ini khususnya ditujukan bagi saya sendiri sebagai pengingat.

Kuburan ayah saya. Baru sekitar 5 bulan usianya.

Kuburan kedua kakak saya. Tradisi menyiram kuburan masih berlaku di keluarga kami.

Artikel terkait di blog ini:

Beban dalam Islam

Iklan

One comment on “Ujian terberat dan nasihat terbaik

  1. tolong lebih baik kalau nasehat ini lebih diperkuat dengan ayat-ayat al-qor1an dan hadist

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s