Beban dalam Islam

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Seringkali dalam hidup ini kita dibebani dengan berbagai kewajiban. Peran kita sebagai suami/istri, warga masyarakat, atasan/bawahan di perusahaan menuntut kita untuk mampu melaksanakan hal-hal tertentu yang sesuai dengan tingkatan kita dalam peran tersebut. Sesuai dengan kapasitas kita dan dukungan lingkungan, beban itu bisa jadi terasa ringan atau berat.

Agar lebih bijak menyikapi persoalan beban ini kita bisa belajar dari pengalaman orang lain. Jika kita menemukan orang lain yang mampu bertahan atas beban berat yang diembannya (sehingga akhirnya memberikan hasil yang sangat memuaskan) itu bisa menjadi inspirasi yang sangat baik bagi kita. Mari kita lihat pengalaman Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat dan analisis ulama terhadap pengalaman tersebut. 

Dalam buku berjudul Fiqhus Sirah: Dirasat Minhajah ‘Ilmiyah li-Siratil Musthafa ‘Alaihi Shalatu wa-Sallam Sirah karya Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (misalnya oleh penerbit Robbani Press dengan judul Sirah Nabawi: Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rasulullah Saw) pada bab Penyiksaan, beliau menulis sebagai berikut.

Apa yang terlintas di kepala setiap orang yang membaca kisah berbagai macam penyiksaaan yang dialami Rasulullah saw dan para sahabatnya ialah pertanyaan: Mengapa Nabi saw dan para sahabatnya harus merasakan penyiksaan, sedangkan mereka berada di pihak yang benar? Mengapa Allah tidak melindungi mereka, padahal mereka adalah tentara-tentara-Nya, bahkan di tengah-tengah mereka terdapat Rasul-Nya yang mengajak kepada agama-Nya dan berjihad di jaIan-Nya?

Jawabnya, sesungguhnya sifat pertama bagi manusia di dunia ini ialah bahwa dia itu mukallaf. Yakni dituntut oleh Allah untuk menaggung beban (taklif). Melaksanakan perintah da’wah Islam dan berjihad menegakkan kalimat Allah merupakan taklif yang terpenting. Taklif merupakan konsekuensi terpenting dari ‘ubudiyah kepada Allah. Tidak ada arti ‘ubudiyah kepada Allah jika tanpa taklif. ‘Ubudiyah manusia kepada Allah merupakan salah satu dan konsekuensi ululuhiyah-Nya. Tidak ada arti keimanan kepada uluhiyah jika kita tidak memberikan ‘ubudiyah kepada-Nya.

Dengan demikian, ‘ubudiyah mengharuskan adanya taklif. Sedangkan taklif menuntut adanya kesiapan menanggung beban dan perlawanan terhadap hawa nafsu dan syahwat. Oleh karena itu, kewajiban hamba Allah di dunia ini ialah mewujudkan dua hal:

  • Pertama, berpegang teguh dengan Islam dan membangun masyarakat Islam yang benar.
  • Kedua, menempuh segala kesulitan dan menghadapi segala resiko dengan mengorbankan nyawa dan harta demi mewujudkan kewajiban tersebut.

Allah mewajibkan kita mempercayai tujuan dan sasaran, disamping mewajibkan kita menempuh jalan yang sulit dan panjang untuk mencapai tujuan tersebut, betapapun bahaya yang harus kita hadapi.

Jika Allah menghendaki, niscaya mudah bagi-Nya untuk membuka jalan perjuangan menegakkan masyarakat Islam. Tetapi,perjuangan yang terlalu mudah ini belum dapat membuktikan samasekali ‘ubudyah seseorang kepada Allah, bahwa dia telah menjual seluruh kehidupan dan hartanya kepada-Nya dan dia telah mengikuti sepenuhnya apa yang dibawa Rasulullah saw. Tanpa perjuangan berat belum dapat dibuktikan siapa yang mu’min sejati dan siapa yang munafik, siapa yang benar dan siapa yang berdusta. Segala penderitaan dan kesulitan yang dialami para penyeru kepada Allah dan pejuang penegak masyarakat Islam merupakan Sunnah Ilahiyah di dunia semenjak permulaan sejarah.

Jika telah Anda ketahui betapa penderitaan dan penganiayaanyang dihadapi oleh searang Muslim yang berjuang menegakkan masyarakat Islam, maka seharusnya Anda menyadari bahwa sebenarnya itu bukanlah rintangan atau hambatan, yang menghalangi para pejuang sebagaimana anggapan sebagian orang, atau mujahid untuk mencapai tujuan. Tetapi merupakan perjalanan di atas jalan biasa yang telah digariskan oleh Allah bagi mereka yang ingin membuktikan keimanannya dan mencapai tujuannya.

Setiap Muslim akan semakin dekat mencapai tujuan yang diperintahkan Allah kepadanya manakala ia semakin berat menghadapi penganiayaan, atau mati syahid di tengah perjuangannya. Oleh sebab itu, seorang Muslim tidak patut berputus asa manakala menghadapi penderitaan atau cobaan berat. Bahkan dia harus semakin optimis terhadap kemenangan apabila dalam perjuangannya mewujudkan perintah Allah tersebut semakin banyak menghadapi cobaan dan penyiksaan.

Demikian tulisan Dr. Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthy dalam bukunya (ada bagian yang tidak saya kutip di bagian tengah).

Jadi, beban adalah hal yang lumrah. Setiap orang yang telah dewasa sudah sewajarnya menanggung beban.  Namun, karakter orang akan menentukan bagaimana dia menerima beban tersebut. Orang yang hidupnya selalu termotivasi (sehingga menyukai tantangan) tampaknya lebih mudah menerima beban dibanding selainnya. Orang-orang seperti inilah yang akan selalu meningkat kualitas hidupnya seiring dengan makin beratnya beban (ujian) yang diembannya jika mampu bersabar. Oleh karena itu, mereka yang selalu menghindari beban (amanah) tambahan dengan berbagai alasan akan kesulitan bahkan mustahil mencapai derajat orang-orang yang termotivasi dan sabar.

Mudah-mudahan kita senantiasa termotivasi dan sabar dalam hidup ini agar kualitas diri kita terus meningkat. Amanah yang seringkali kita pandang sebagai beban seharusnya dapat kita sambut dengan dada yang lapang semoga dengan meniatkannya hanya untuk Allah SWT amanah itu akan terasa ringan. Bukankah dalam ayat ke-286 dalam surat al-Baqarah Allah telah berfirman bahwa Dia tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya? 

Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan

One comment on “Beban dalam Islam

  1. Ping-balik: Ujian terberat dan nasihat terbaik « Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s