Ide penyatuan waktu Indonesia

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Wacana penyatuan waktu Indonesia (dari 3 zona waktu menjadi 1) semakin ramai dibicarakan. Ide ini kabarnya mulai dilontarkan sejak beberapa tahun lalu. Terakhir kali oleh Pak Hatta Rajasa yang seperti kita baca di media katanya bisa menghasilkan keuntungan hingga trilyunan rupiah bagi Indonesia.

Tampaknya hampir semua orang mengakui bahwa dengan satu waktu, Indonesia akan sangat diuntungkan secara ekonomi di samping keuntungan lain dari sisi administrasi. Namun jika ditinjau dari segi yang lain (yang jarang diangkat) nampaknya pemerintah perlu lebih berhati-hati sebelum memutuskan. Kenapa? 

Minggu lalu (14 Maret 2012) saya diwawancara KompasTV bersama Pak Edib Muslim dari KP3EI. Pada kesempatan tersebut  saya menggantikan Pak Thomas Djamaluddin yang berhalangan untuk hadir. Beberapa hal saya sampaikan dalam kapasitas saya sebagai seorang peneliti astronomi (dan seorang muslim) bukan sebagai peneliti LAPAN.

Memang tidak cukup hanya mempertimbangkan faktor ekonomi dan politik dalam menentukan waktu zona di negara kita. Alasan pertama adalah lebarnya wilayah Indonesia yang bujurnya membentang sekitar 45 derajat (3 jam rotasi Bumi). Jika ujung timur Indonesia melihat Matahari terbit saat ini maka ujung barat Indonesia baru menyaksikan kejadian serupa 3 jam kemudian.  Gambar berikut memperlihatkan contoh perbedaan kondisi alam untuk selisih waktu 3 jam tersebut.

Perbandingan kondisi alam untuk selisih waktu 3 jam: Matahari terbit (kiri) dan Matahari 3 jam kemudian (ketinggian 40 derajat). Ilustrasi dibuat dengan Stellarium.

Jika waktunya sama di seluruh wilayah Indonesia maka pada jam yang sama kondisi alam di kedua ujung wilayah Indonesia sudah sangat berbeda. Menurut saya, ini akan semakin menjauhkan masyarakat kita dari alam. Saya kira kita semua sepakat tidak ingin menjadikan masyarakat kita apalagi generasi mudanya sebagai masyarakat yang tidak lagi mengenal alamnya. Untuk itu, pemerintah harus mengantisipasinya dengan baik. Perubahan pada waktu sipil (yang kita digunakan sehari-hari di arloji dan lain-lain) yang semakin jauh dari kondisi alam yang kita alami sehari-hari bisa berdampak secara psikologi karena berpengaruh pada pola hidup yang telah kita jalani sekian lama.

Alasan kedua adalah jumlah umat Islam yang mayoritas di Indonesia (makin padat ke arah barat Indonesia). Ini terkait dengan waktu istirahat yang saat ini didefinisikan pukul 12.00 hingga 13.00 (di masing-masing zona). Dengan 3 zona waktu seperti saat ini saja seringkali awal waktu dzuhur terjadi sebelum awal waktu istirahat sehingga seringkali menyulitkan PNS muslim untuk melaksanakan shalat ini di awal waktu. Untuk Bandung dan sekitarnya, awal dzuhur terjadi sebelum awal waktu istirahat di 5/6 waktu dalam setahun (4 bulan) seperti terlihat pada gambar berikut ini.

Awal waktu dzuhur untuk wilayah Bandung dan sekitarnya

Semakin bergeser ke barat dari Bandung, awal waktu dzuhur semakin mundur. Di Medan selisihnya dengan Bandung sekitar 1/2 jam sehingga jika di Bandung shalat dzuhur hari ini dimulai pada pukul 12.00 WIB maka Medan memulainya pukul 12.36 WIB. Jika satu waktu (sebut saja Waktu Indonesia, WI) diberlakukan dengan mengikuti GMT+8 (saat ini WITa) seperti yang direncanakan maka baik Bandung maupun Medan harus menambah waktu sipilnya 1 jam. Dzuhur di Bandung hari ini jadinya dimulai pukul 13.00 WI sedang di Medan pukul 13.36 WI. Bandung memulainya di akhir waktu istirahat sedang Medan jauh setelah waktu istirahat berakhir. Untuk wilayah Bandung dan sekitarnya memang pergeseran ini menjadikan lebih banyak waktu istirahat yang bersesuaian dengan awal dzuhur namun diperlukan penambahan waktu istirahat untuk mengakomodasi minimal 2 bulan yang lewat dari akhir waktu istirahat tersebut. Di Medan akan jauh lebih parah karena awal waktu dzuhur terjadi setelah akhir waktu istirahat di sepanjang tahun. Solusi yang mungkin ditawarkan adalah mengundur waktu istirahat misalnya menjadi 13.00 hingga 14.00 WI. Namun ini akan berdampak di wilayah timur Indonesia misalnya Biak karena di sana Dzuhur telah masuk pada pukul 11.00. Di wilayah ini bukan hanya praktik shalat dzuhur yang kemungkinan harus diundur cukup jauh namun juga waktu makan siang.

Menteri agama menjelaskan bahwa waktu shalat tidak akan terpengaruh oleh penyatuan waktu karena perhitungannya dilakukan berdasarkan posisi Matahari bukan jam sipil.  Secara  teori memang betul namun praktiknya yang patut kita waspadai bagi para PNS. Saat ini saja dengan tiga zona waktu yang lebih sesuai dengan jam Matahari PNS seringkali mengundur shalatnya agar sesuai dengan jam istirahat apalagi ketika satu zona waktu diberlakukan. Jadi permasalahan bukan pada teorinya namun pada praktiknya.

Pak Thomas Djamaluddin mengusulkan agar penyederhanaan zona waktu di Indonesia adalah dari 3 zona menjadi 2 zona. Indonesia dibagi menjadi waktu barat dan timur dengan  batas di selat Makassar dan selat Bali. Saya sepakat dengan usulan ini karena di satu sisi mendukung penyederhanaan waktu yang diperkirakan akan menghasilkan banyak keuntungan dan di sisi lain tidak terlalu jauh merusak keharmonisan hubungan kita dengan alam dan makin memperbesar ketidaksesuaian antara waktu istirahat, shalat, dan makan (sering disingkat ishoma) bagi PNS. Jika wilayah barat Indonesia tidak perlu menambah waktu sipilnya 1 jam maka waktu istirahat tidak perlu diundur 1 jam (sehingga berpotensi menimbulkan masalah di wilayah timur Indonesia).

Zona waktu di Indonesia saat ini. Sumber: http://tdjamaluddin.wordpress.com

Zona waktu usulan Pak Thomas Djamaluddin. Sumber: http://tdjamaluddin.wordpress.com

Kesamaan waktu dengan negara lain misalnya Singapura dan Cina seringkali dijadikan salah satu faktor peningkatan ekonomi Indonesia. Sayang sekali jika perbandingan antar negara ini dilakukan tanpa menyadari  dengan baik bahwa masyarakat kita berbeda secara kultur dan agama dengan masyarakat di negara-negara tersebut.  Rasanya sayang sekali kalau bangsa kita yang besar ini terpaksa mengikuti negara lain demi perbaikan ekonominya. Saya kira seharusnya ide lain yang lebih brilian yang dilontarkan untuk mengangkat perekonomian bangsa kita. Ide yang cerdas secara ekonomi dan tidak berpotensi menimbulkan dampak psikologi dan biologis yang berlebihan (karena perubahan pola hidup) dan dampak pada praktik ibadah pegawai negerinya.

Artikel terkait di blog ini:

Jadwal waktu shalat

Tautan:

Artikel tentang dampak zona tunggal waktu Indonesia di blog Pak Thomas Djamaluddin

Artikel Time zone di Wikipedia 

Iklan

4 comments on “Ide penyatuan waktu Indonesia

  1. ya saya bayangkan saja ya… sama sama WIB saja, ketika saya di Aceh, magrib itu bisa jam 19 lebih. Mereka juga jam 7 pagi bisa dikatakan masih gelap. Coba kalau zona waktu disatukan, masak sih orang aceh harus berangkat kerja saat hari masih gelap gulita. Dan orang Indonesia timur harus pulang malam dalam keadaan gelap..

  2. pakailah yg terbaik saja, yg sekiranya tdk menyulitkan di dlm kita beraktifitas sehari hari, dan sekiranya diterima oleh orang banyak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s