Sampah antariksa di sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Sidang ke-49 Subkomite Ilmiah dan Teknik (STSC) Komite PBB tentang Penggunaan Antariksa untuk Tujuan Damai (UNCOPUOS) telah berakhir pada 17 Februari lalu. Masalah sampah antariksa (space debris) dibahas secara khusus pada tanggal 8, 9, dan 10 Februari (tiap hari sidang terdiri dari dua sesi: pagi dan sore). Semua presentasi teknis bisa diunduh di website STSC-UNCOPUOS 2012.

Sayang sekali materi tentang aktivitas mitigasi sampah antariksa di Indonesia belum sempat disampaikan pada sidang kali ini. Semoga materi ini tampil nanti manakala kontribusi kita sebagai bangsa terkait sampah antariksa sudah lebih baik lagi. Untuk  itu dibutuhkan visi dan kesungguhan mencapai visi tersebut.

Tulisan ini berisi catatan saya dan Pak Didi Satiadi (peneliti pemodelan atmosfer LAPAN) sebagai salah satu notulis delegasi RI tentang pembahasan sampah antariksa. Saya tambahkan beberapa catatan untuk mata acara long-term sustainability of outer space activities dan mata acara geostationary orbit yang erat kaitannya dengan isu sampah antariksa. Catatan ini adalah bagian dari laporan yang kami sampaikan ke LAPAN.

Rabu, 8 Februari

Sesi pagi (762th meeting)

  • Perwakilan India dan Italia memberikan pernyataannya.

Sesi sore (763th meeting)

  • Tidak ada pembahasan tentang sampah antariksa.

Kamis, 9 Februari

Sesi pagi (764th meeting)

  • Perwakilan Jepang, Jerman, dan Rusia memberikan pernyataannya. Catatan Pak Didi Satiadi: Jepang telah mengembangkan teknologi antara lain untuk memonitor space debris termasuk onboard detector, juga protecting technology untuk melindungi satelit dari tumbukan space debris. Jepang juga mempelajari cara untuk memperbaiki lingkungan orbit dengan electrodynamic tidal system yang dianggap paling sesuai untuk mengurangi space debris. Rusia mengembangkan sistem monitor otomatis space debris dan juga mengembangkan model-model prediksi. Jerman juga memonitor space debris dan informasi disampaikan melalui website. Indonesia dapat mengambil manfaat dari apa yang telah dilakukan oleh Jepang, Rusia dan Jerman untuk memonitor space debris maupun mengembangkan teknologi untuk melindungi satelit Indonesia dari space debris di masa mendatang.

Sesi sore (765th meeting)

  • Masalah sampah antariksa dibahas dalam Expert Group B: Space Debris, Space Operations and Tools to support Collaborative Space Situational Awareness. Expert group ini bersama 3 expert group lainnya (Expert Group A: Sustainable Space Utilization supporting Sustainable Development on Earth, Expert Group C: Space Weather, dan Expert Group D: Regulatory Regimes and Guidance for Actors in the Space Arena) termasuk dalam Working Group on the Long-term sustainability of outer space activities (info di http://www.unoosa.org/oosa/en/COPUOS/stsc/lts/index.html).
  • Catatan Pak Didi Satiadi:
    • Tentang sampah antariksa: Obtain recommendation of best practice guidelines including space debris, space operation, tools to support collaborative space situational awareness. Space debris: increases congestion, remedy, space debris removal. Space operation: increase risk of collision generating large amount of debris.  Notification reduce possibility of collision. Notification to government and operators. Information sharing of orbit, position and velocity is important. Standard format.
    • Tentang Working Group on the Long-term sustainability of outer space activitiesIni adalah workshop dari working group on long term sustainability of outer space. Tujuan dari working group ini pada akhirnya adalah memberikan laporan yang berisi rekomendasi  panduan atau best practise untuk mendukung penggunaan angkasa luar secara berkesinambungan. Working group ini memiliki 4 expert group yaitu: sustainable space utilization, space debris, space weather, dan regulatory regime. Expert group space debris membangun guidelines untuk mengurangi space debris dan menanggulangi akibat dari space debris. Expert group space weather mengidentifikasi resiko dari cuaca antariksa dan membangun guidelines untuk mengurangi resiko dari cuaca antariksa tersebut. Expert group sustainable utilization of space memberikan rekomendasi untuk penggunaan ruang angkasa secara berkesinambungan. Expert group regulatory regime mempelajari regulasi yang ada saat ini dan mengembangkannya. Keempat working group telah melaporkan status dari pekerjaan masing-masing serta jadwal kerja selanjutnya.
  • Presentasi wakil Expert Group B: Claudio Portelli (Italia) dan Richard Buenneke (USA) dengan judul Expert Group on Space Debris, Space Operations and Tools to Support Collaborative Space Situational Awareness. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Jumat,10 Februari

Sesi pagi (766th meeting)

  • Perwakilan USA, Indonesia, dan Chili serta pengamat dari ESA memberikan pernyataannya. Berikut selengkapnya pernyataan perwakilan Indonesia (saya sendiri yang bertugas membacakannya):

Mr. Chair and distinguished delegates,

The issue of space debris is of great importance for Indonesia due to the country’s large expanse along the equator, the country’s large population, and the increasing number of space objects, including Indonesian satellites. We are of the view that the issue of space debris  should be studied more seriously and comprehensively. 

Mr. Chair, 

Noting Indonesians’ increasing awareness of the issue of space debris (especially in the case of reentry) and the imperative action to mitigate the effects of space debris, Indonesia requests that more accessible and accurate data and information on space debris be made available. This information and data should come from the respective satellite operators and, where applicable, from USSTRATCOM, as the institution consistently monitoring space debris.  This would be important in order to effectively mitigate space debris. In this regard, we would like to commend the cooperation extended to Indonesia by ASI the Italian Space Agency as the operator of BeppoSax in supplying us with the necessary information when the satellite fell to Earth in April 2003. We would like to see this type of cooperation for all information concerning predicted reentry. We noted a different approach in the case of the Phobos-Grunt reentry as the Tracking and Impact Prediction Report on Space-Track was unusual and limited. 

Mr. Chairman, 

Given the current situation, in which all analysis of space debris relies solely on data published by other entities, especially USSTRATCOM, Indonesia places great importance on support from developed countries for the development of space debris monitoring capacity that covers not only orbiting objects but also, potentially, any falling back to Earth. 

I thank you, Mr. Chair, for giving me the floor and thank you very much for the attention.

  • Catatan Pak Didi Satiadi: Indonesia juga perlu memperhatikan isu space debris dan telah menyampaikan permohonan akan informasi mengenai space debris dan bantuan dari negara maju dalam monitoring space debris. Indonesia perlu menentang percobaan penghancuran satelit di ruang angkasa karena akan meningkatkan space debris yang meningkatkan resiko reentry dan collision sehingga mengganggu kegiatan ruang angkasa. Hal ini dibuktikan dengan meningkatnya jumlah space debris setelah Fengyun-1c test oleh China yang disampaikan oleh delegasi dari ESA.
  • Presentasi wakil International Association for the Advancement of Space Safety (IAASS) Prof. Dr. Ram Jakhu dengan judul Active Debris Removal – An Essential Mechanism for Ensuring the Sustainability of Outer Space. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan Perancis: Fernand Alby dengan judul Overview on 2011 Space Debris Activities in France. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan Rusia: V. Agapov dengan judul Results of GEO and HEO space debris population research within the framework of ISON international project in 2011. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Sesi sore (767th meeting)

  • Perwakilan Kanada, Cina, Polandia, Arab Saudi, dan Venezuela memberikan pernyataannya. Catatan Pak Didi Satiadi: Peneliti Indonesia dapat memperhatikan penelitian yang dilakukan oleh Polandia mengenai degradasi orbit satelit yang sengaja dilakukan untuk mempercepat reentry dengan merubah bentuk satelit dan meningkatkan friksi. Hal ini dapat berguna dalam rancangan satelit di masa mendatang untuk mengurangi space debris. Venezuela juga telah melakukan manuver satelit untuk menghindari tabrakan dengan menyisakan bahan bakar.  Venezuela juga khawatir dengan tidak adanya aturan yang mengikat mengenai space debris dan meminta agar aturan yang lebih mengikat dapat dikembangkan. Indonesia perlu mempertimbangkan untuk mendukung usul dari Venezuela ini.
  • Presentasi perwakilan USA: Nicholas Johnson dengan judul USA Space Debris Environment, Operations, and Policy Updates. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan Jepang: A. Kato dengan judul Japan’s View on “the Long-Term Sustainability of Outer Space Activities of the STSC”. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Tambahan

Mata acara sampah antariksa memang dijadwalkan dibahas di minggu pertama tapi pembahasan berlangsung hingga minggu kedua. Formal meeting expert group B masih berlangsung pada Senin, 13 Februari 2012. Ada beberapa presentasi teknis terkait sampah antariksa di minggu kedua.

Senin, 13 Februari

  • Presentasi wakil Secure World Foundation (SWF): B. Weeden dengan judul The Global Space Situational Awareness Sensor Database: A new tool for collaboration and cooperation. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan Jerman: Martin Pilgram dengan judul CCSDS contribution to the long-term sustainability of Outer Space Activities: DLR View. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan Swiss: T. Schildknecht dengan judul Swiss Contributions to a Better Understanding of the Space Debris Environment. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Selasa, 14 Februari

  • Presentasi wakil IAASS: W. Ailor dengan judul Space Debris Re-entry Hazards. Materi presentasi bisa diunduh di sini.
  • Presentasi perwakilan USA (USSTRATCOM): C. McLeod dengan judul Space Situational Awareness (SSA) Sharing. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Rabu, 15 Februari

  • Presentasi perwakilan Ceko: L. Perek dengan judul Actual Situation in the Geostationary Orbit. Materi presentasi bisa diunduh di sini.

Artikel terkait di blog ini:

Space debris mitigation guidelines

Tautan:

Website UNCOPUOS

Iklan

3 comments on “Sampah antariksa di sidang PBB

  1. Ping-balik: Catatan perjalanan: Wina, Feb 2012 « Abdul Rachman's blog

  2. Ping-balik: Space debris, Space weather, dan Near Earth Objects di Sidang PBB | Abdul Rachman's blog

  3. Ping-balik: Catatan perjalanan: Wina, Feb 2014 | Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s