Persaudaraan Islam

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Satoshi Kanazawa seorang evolutionary psychologist pernah membuat tulisan berjudul What’s Wrong with Muslims? di website Psychology Today yang dipublikasikan pada 10 Januari 2010. Dalam tulisannya ia berkata, “Being a Muslim in today’s world is unlike being anything else.  It’s an all-encompassing, all-consuming identity.”

Mengapa demikian?

Kanazawa memberikan penjelasannya, “Within a single society, like the United States, white college professors, say, usually have much more in common – in their values, preferences, lifestyles, and opinions – with black college professors than they do with, say, white garbage collectors. Conversely, black garbage collectors usually have much more in common with white garbage collectors than they do with black college professors. There may be exceptions in some cases, but usually their acquired traits of occupation and profession – what they do every day – is more important in determining who they are and what they believe than their race and ethnicity.

Across societies, however, French electricians, say, usually identify more strongly with French plumbers or even with French accountants than they do with, say, Chinese electricians. Conversely, Chinese electricians usually identify more strongly with Chinese plumbers and accountants than they do with French electricians. Once again, I’m sure there are some exceptions, but usually, in modern society, nationality and culture strongly shape people’s identity and unite them despite their different occupations and professions.

These generalizations appear to hold for most societies, cultures, races, ethnicities, religions, and languages, except for Muslims.  For them, being a Muslim appears to be an all-encompassing, all-consuming identity that overrides and trumps everything else.  For them, nothing else – their race, their nationality, their occupation, their language – matters except for being Muslim, which unites all Muslims in the world.  (True, most Muslims speak the same language – Arabic – but not all; neither Indonesians nor Chechens speak Arabic.  Nor do Iranians.)”

Setelah memberikan beberapa contoh untuk memperkuat pernyataannya, Kanazawa menutup tulisannya dengan pertanyaan, “Why is being Muslim so completely different from being anything else in the modern world today?  Why is being Muslim such an all-encompassing, all-consuming identity?

Pelajaran apa yang bisa kita (sebagai muslim) ambil dari tulisan Kanazawa tersebut? Saya kira minimal satu hal: bagaimana pun buruknya kualitas umat Islam saat ini, keyakinan bahwa mereka bersaudara secara iman masih ada. Ini adalah modal dasar yang harus dipelihara dan dikembangkan untuk mencapai derajat persaudaraan Islam (ukhuwah Islamiyah) yang sempurna.

Persaudaraan karena iman adalah bentuk persaudaraan yang paling kuat melebihi persaudaraan karena darah dan keturunan. Imam Hasan al-Banna dalam kitabnya Risalatut Ta’alim mengatakan, “Yang dikehendaki dari ukhuwah adalah terjalinnya hati dan ruh dengan jalinan akidah karena akidah adalah jalinan yang paling kokoh dan paling mahal. Ukhuwah merupakan saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran.”

Bagaimana caranya mencapai derajat persaudaraan yang tertinggi?

Perlu beberapa langkah untuk mencapai itu. Dimulai dari menjalin hubungan (komunikasi) hingga menumbuhkan rasa saling sepenanggungan. Perhatikan skema berikut ini.

Langkah-langkah untuk mencapai kesatuan umat (klik gambar untuk diperbesar)

Komunikasi dapat dicapai dengan silaturahim baik secara langsung mengunjungi saudara kita atau tidak langsung dengan memanfaatkan berbagai fasilitas modern yang tersedia saat ini seperti telepon dan internet. Komunikasi dapat dilakukan secara pribadi  maupun berkelompok.

Berikut ini penjelasan ringkas langkah-langkah berikutnya yang saya kutip dari buku Syarah Rasmul Bayan Tarbiyah susunan Ustadz Jasiman, Lc terbitan Auliya Press, Solo.

  1. Ta’aaruf (saling mengenal).
    Bukan hanya mengenalnya secara fisik namun juga mengenali aspek pemikiran, kejiwaan, latar belakang diri dan keluarganya, kelebihan dan kekurangannya, dan lain sebagainya.
  2. Tafaahum (saling memahami).
    Kesepahaman yang harus dibangun dimulai dengan kesepahaman dalam hal-hal prinsip lantas dilanjutkan untuk saling memahami hal-hal sekunder. Bila ini dapat dilakukan, akan tercapai kesatuan hati, pemikiran, bahkan terimplementasikan dalam bentuk kesatuan amal yakni amal jama’i.
  3. Ta’aawun (saling membantu).
    Mereka suka rela membantu dalam hal-hal yang menyangkut urusan hati, pikiran, maupun amaliah. Ta’aawun hati diwujudkan misalnya dalam bentuk empati dan kepedulian; ta’aawun fikri diwujudkan dengan memberi saran dan sumbangan pemikiran; ta’aawun amali dalam bentuk bantuan secara materi dan sebagainya.
  4. Takaaful (saling sepenanggungan).
    Pada tingkat ini seorang mukmin benar-benar merasakan bahwa ia adalah bagian yang tak terpisahkan dari saudaranya. Bagai jasad yang satu, bila ada bagian tubuhnya yang mengaduh maka seluruh jasad tidak akan dapat tidur dan merasakan demam. Pada tahap ini mereka benar-benar telah menyatu dan saling mencinta.

Bila seluruh tahapan ini tercapai, insya Allah akan terwujud kesatuan barisan dan kesatuan umat.

Mudah-mudahan Allah SWT berkenan menyampaikan umat Islam ke tingkat persaudaraan yang sempurna. Sekiranya ini tercapai niscaya Mr Kanazawa (dan teman-temannya) akan lebih terperangah lagi melihat kondisi umat Islam.

Tautan:

Khutbah jumat tentang ukhuwah Islamiyah di khotbahjumat.com

Artikel tentang ukhuwah Islamiyah di dakwah.info

Artikel tentang ukhuwah Islamiyah di almanhaj.or.id

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s