Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Bagi yang rajin mengikuti perkembangan berita di Indonesia baik itu lewat TV maupun internet, akan menyadari bahwa belakangan ini seringkali beredar berita-berita heboh terkait dengan “fenomena alam semesta”.  Mulai langit terbelah hingga satelit dan meteor jatuh (ini yang paling sering).

Sepertinya berita-berita ini banyak bermunculan setelah isu kiamat 2012 dihembuskan oleh beberapa orang/pihak di negeri ini. Karena isu ini dikaitkan dengan keantariksaan seperti aktivitas Matahari dan benda jatuh antariksa maka LAPAN sebagai lembaga resmi yang menangani keantariksaan di Indonesia sering diminta oleh berbagai pihak untuk memberi penjelasan. Ini tantangan bagi LAPAN untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat sekaligus peluang agar lebih dikenal.

(catatan: sebagian besar isi tulisan ini diambil dari tulisan sebelumnya berjudul “Menyongsong tahun baru 2012”)

Fenomena badai Matahari

Ilustrasi badai Matahari merambat ke Bumi

Memang awalnya tahun 2011 dan 2012 diperkirakan adalah masa di mana Matahari mencapai puncak aktivitasnya namun sekarang perkiraannya bergeser menjadi 2013. Ketika berada di puncak aktivitasnya ini, frekuensi ledakan di permukaan Matahari yang menimbulkan badai geomagnet di Bumi meningkat sekitar 10 kali dibanding ketika Matahari dalam kondisi normal. Akan tetapi, walaupun melepaskan energi yang sangat tinggi, ledakan berupa flare atau coronal mass ejection (CME) ini bersifat lokal. Tidak terjadi di seluruh permukaan Matahari. Ledakan di Matahari tidak sama dengan Matahari yang meledak. Lebih tidak sama lagi dengan kiamat yang cuma sekali terjadi dan langsung menghancurkan seluruh alam semesta ini.

Manusia sudah berkali-kali mengalami puncak aktivitas Matahari sebagaimana isu kiamat. Sejak tahun 1750 manusia telah mengalami 23 kali Matahari di puncak aktivitasnya. Sekarang kita sedang menuju puncak aktivitas ke-24. Untungnya, bahaya yang mungkin timbul akibat ledakan Matahari tidak berpotensi merusak semuanya tapi hanya sistem teknologi terutama yang ditempatkan di luar angkasa. Manusia jaman dulu yang belum mengenal teknologi listrik tidak pernah mengalami kerugian akibat ledakan di Matahari. Hanya manusia jaman sekarang yang mungkin dirugikan karena ledakan di Matahari berpotensi merusak karya teknologi mereka jika tidak mampu menyesuaikan diri. Berbeda sekali dengan manusia jaman dulu yang merasakan akibat ledakan tersebut semata keindahan karena yang mereka alami hanya keindahan aurora di daerah-daerah lintang tinggi dan kadang di lintang menengah.

Fenomena sampah antariksa

Populasi sampah antariksa

Sampah antariksa (orbital debris) adalah benda buatan manusia yang mengitari Bumi selain satelit yang berfungsi. Sebagaimana biasanya sampah, sampah antariksa pun bersifat merugikan karena dapat bertabrakan dengan satelit yang masih aktif dan mungkin jatuh ke Bumi dalam kondisi yang tidak dikendalikan. Saat ini jumlah sampah antariksa yang berukuran di atas 10 cm adalah sekitar 15 ribu buah. Yang berukuran lebih kecil tidak terhitung jumlahnya.

A. Tabrakan satelit dengan sampah antariksa

Contoh hasil tabrakan dua benda antariksa

Pada Februari 2009, media cukup ramai memberitakan kejadian tabrakan antara satelit Iridium 33 milik Amerika Serikat yang masih aktif dengan sampah antariksa milik Rusia. Ini adalah kasus pertama sebuah satelit aktif ditabrak oleh benda antariksa utuh (bukan berupa serpihan).

Seperti halnya puncak aktivitas Matahari, tabrakan benda-benda antariksa buatan juga bukan hal baru. Tabrakan semacam ini telah terjadi sejak tahun 1991 dan diperkirakan puncaknya tidak terjadi di 2012. Kemungkinan tabrakan antar benda buatan diperkirakan akan terus meningkat jika antisipasi tidak dilakukan mulai saat ini. Akan tetapi, sekalipun 15 ribuan benda-benda buatan itu saling bertubrukan, tidak akan ada apa-apanya dibanding tubrukan antar planet yang beratnya mencapai 6×1021 ton (untuk Bumi) dengan laju mencapai 100 ribu km/jam (untuk laju orbit Bumi). Tubrukan maha dahsyat yang mungkin saja dialami bumi ketika kiamat ini akan menghancurkan semua yang ada di Bumi ini.

Sejak awal manusia meluncurkan roket ke ruang angkasa di tahun 1957 hingga kini, baru empat kali terjadi tubrukan antar benda antariksa buatan secara alami. Tapi di masa depan diperkirakan tubrukan ini akan makin sering terjadi. Mengapa? Sebab saat itu populasi benda antariksa buatan di orbit rendah telah melewati titik kritis di mana laju pertambahan benda antariksa telah melampaui laju pengurangannya akibat terjatuh ke atmosfer. Bahkan sekalipun tidak ada lagi peluncuran roket sejak saat ini, populasi benda antariksa akan terus bertambah akibat tabrakan antar sesama benda antariksa yang menghasilkan serpihan-serpihan sebagai benda-benda antariksa yang baru.

Terbentuknya serpihan-sepihan antariksa yang baru tidak hanya terjadi secara alami. Penembakan satelit Fengyun 1C oleh Angkatan Bersenjata RRC pada Januari 2007 dan satelit USA 193 oleh Angkatan Bersenjata Amerika Serikat pada Februari 2008 telah turut memperbesar populasi sampah antariksa. Sampah yang terbentuk di ketinggian 500 km paling lama hanya beberapa tahun menghantui satelit sebelum jatuh ke Bumi akan tetapi sampah di ketinggian 1000 km akan menghantui satelit-satelit yang aktif selama ratusan tahun sebelum jatuh ke Bumi, sedangkan sampah di GEO sampai kapan pun tidak akan jatuh ke Bumi.

B. Jatuhnya sampah antariksa

Contoh sampah antariksa

Sampah antariksa yang berketinggian kurang dari 2000 km suatu saat akan jatuh ke Bumi dan berpotensi menimbulkan kerusakan.  Fakta menunjukkan bahwa di antara  lebih dari 20 ribu benda antariksa buatan yang jatuh ke bumi hingga saat ini, 33% di antaranya berukuran cukup besar untuk sampai ke permukaan bumi. Peristiwa jatuhnya satelit Cosmos 954 milik Uni Soviet yang mengandung muatan nuklir di Perairan Kanada pada tahun 1978 adalah bukti yang tidak terbantahkan.

Dibanding negara lain, negara kita harus lebih waspada sebab wilayahnya membentang lebar di khatulistiwa sehingga secara umum memiliki resiko kejatuhan sampah antariksa yang lebih besar daripada kebanyakan negara lainnya. Hingga saat ini, LAPAN telah mengidentifikasi tiga sampah antariksa yang jatuh di wilayah Indonesia. Jumlah yang jatuh bisa jadi jauh lebih banyak.

Fenomena jatuhnya meteor

Contoh meteorit yang ditemukan jatuh di Indonesia (sebesar pepaya)

Selain benda buatan, benda alami pun mungkin jatuh ke Bumi. Benda-benda ini dapat berupa pecahan asteroid dan komet, debu-debu komet, atau batuan tata surya lainnya. Benda-benda alami yang dinamakan meteoroid ini sebagian besar terbakar habis di atmosfer sehingga tidak menimbulkan bahaya di permukaan  Bumi. Benda yang selamat sampai ke permukaan Bumi dinamakan meteorit.

Sejauh ini diketahui tidak ada peningkatan jumlah meteoroid yang jatuh ke bumi dibanding tahun-tahun sebelumnya. Karena itu tidak betul jika ada yang menganggap bahwa maraknya berita meteor jatuh di Indonesia belakangan ini terkait dengan isu kiamat 2012. Seringkali peristiwa yang dikabarkan sebagai meteor jatuh (kasus di Cirebon dan Karanganyar) hanyalah peristiwa lokal bukan peristiwa jatuhnya benda luar angkasa.

Mengingat potensi kerusakan yang mungkin ditimbulkan (apalagi sampah antariksa mungkin mengadung bahan radioaktif) maka LAPAN terus mengupayakan pemantauan benda-benda jatuh antariksa (namun saat ini baru pemantauan benda jatuh antariksa buatan yang sudah rutin dilakukan).

Apa yang dapat kita lakukan?

Kejadian badai Matahari dan jatuhnya meteor adalah dua peristiwa yang alami terjadi sebagai sunnatullah. Peristiwa ini akan terjadi walau tanpa campur tangan manusia. Yang dapat kita lakukan adalah menyesuaikan diri dan teknologi kita agar dapat selamat dari dua fenomena tersebut. Berbeda dengan sampah antariksa. Sampah antariksa adalah hasil sampingan dari teknologi yang diciptakan manusia. Dengan demikian manusia memiliki kekuatan untuk mengontrolnya.

Berbagai teknik telah dilakukan untuk membatasi populasi sampah antariksa mulai dari mencegah meledaknya motor roket, mengurangi jumlah komponen roket atau satelit yang terlepas (sengaja atau tidak), hingga menjatuhkan/mengambil roket atau satelit bersangkutan ke bumi (untuk kasus satelit LEO) atau melemparkannya sehingga menjauh dari wilayah satelit-satelit aktif (untuk kasus satelit GEO). Namun, dunia telah mengakui bahwa solusinya terletak pada kerjasama secara internasional untuk mengendalikan, membatasi, atau mengurangi populasi sampah antariksa tersebut.

Mengingat potensi kerusakan yang ditimbulkan oleh sampah antariksa, sudah seharusnya seluruh negara yang telah mampu merancang roket dan satelit sendiri (termasuk negara kita) menyesuaikan rancangannya untuk mendukung upaya mitigasi sampah antariksa. Langkah bersama inilah yang dinilai paling efektif untuk mengurangi kecemasan dunia akan sampah antariksa di masa depan.

Artikel terkait di blog ini:

Menyongsong tahun baru 2012 (bahan utama untuk artikel ini)

Tidak ada yang diciptakan Allah sia-sia

Iklan

5 comments on “Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

  1. Ping-balik: Space debris mitigation guidelines « Abdul Rachman's blog

  2. Ping-balik: Merenungi Matahari sebagai makhluk Allah « Abdul Rachman's blog

  3. Alam semesta ini sedang Sakit diibaratkan “IBU PERTIWI” sedang duka, dalam hal memperhitungkan dan memprediksikan dengan perhitungan yang super cermat n teliti yang mengunakan nano processsor itu tidak mencukupi untuk menghitung apa yang akan terjadi dan bakal terjadi, karena “Belum Kejadian”, maka hal diluar “Jangkauan Akal Manusia” atau hal yang melampui perhitungan akal manusia, walaupun perhitungan itu mengunakan perhitungan “Cosmic” “computer set microcontroller” kemungkinan lepas sangat besar karena kejadian ini belum terjadi yang bisa dibaratkan “Sangkan Paran Ing Dumadi”, maksudnya kita berandai-andai atau bersangka-sangka membuat program microcontoller namun unsur “X” tetap mempengaruhi dan sangat berpengaruh dalam artian perubahan secara tiba-tiba yang di luar “MANU SCRIPT” itu bisa terjadi dan kejadian itu sangatlah cepat karana perhitungan cosmic, “Cahaya”, Dalam hal ini Apabila Keseimbangan alam semesta ini tidak bisa ditanggulangi maka Nilxi “x” itu menentukan, sebab dan akibatnya, memang badai matahari itu telah berulang kali terjadi yang diibaratkan “KIAMAT KECIL” atau kiamat “LOKAL” yang mana yang terjadi imbas hanyalah sebagian kecil dari alam semesta ini, dan dijaman itu bumi ini masih belum sepadat dan sepunuh seperti sekarang ini maka dengan cepat ALAM mengambil alih untuk “keseimbangannya” dan menjadi sirkulasi keadaan dan kembali dalam kehidupan baru, namun perlu diingat bahwa kiamat kubro itu adalah kiamat runtuhnya alam semesta ini menjadi pada ketenangan abadi seperti “Awal Kejadian”, diciptakannya matahari (PELITA) yang berupa bintang besar dan diikuti oleh terciptanya planet-plnaet dari pijaran bola api matahari, termasuk bumi yang kita diami ini karena didalam perut Bumi ada Neraka yang menyala-nyala (Magma) dan dilagit ada neraka uyang menyala-nyala (Matahari), dengan kejadian badai yang bakal terjadi bumi serta planet-plnet tidak bisa secara cepat memperbaiki diri untuk keseimbangan, karena sebanarnya ynag menjadi poros dan aras, sumbu, atau AS dari planet dilama ini adalah Planet “INI BIRU” jadi bukan planet “NIBIRU” yaitu BUMI sebagai penyerap paling besar energi matahari dalam melangsukan kehidupam melalui penyerapan energi kalor matahari oleh Tumbuhan sebagai foto sintesis, dan penyerapan energi kalo matahari oleh laut untuk Terjadinya Musim, hujan dan kemarau, sehinga keseimbangan planet itu tetap Statis pada garis edarnya karena dengan penyerapan kalor yang semibnag maka Geomagnet matahari “akan pudar” atau pecah sehingga atau geomagnet matahari tidak bisa terkemupul dengan sempurna maka planet itu dengan tetap tenang berada pada garis edarnya masing-msing, dengan adanya pemanasan yang berlebihan dri matahari dan kembali kematahari maka akan membuat matahari menghasilkan geomagnet yang lebih banyak sehingga geo magnet akan terkumpul dengan serta merta akan mempengaruhi medah magnet kutub semua planet termasuk bumi yang kita diamni ini sehingga nilai “x” yang tadinya konstanta akan berubah arah dengan diikuti berubahnya Medan kutub semua Planet termsauk bumi yang tadinya 1 menjadi 0 dan tadinya 0 menjadi 1, dalam keadaan seperti ini maka dalam perhitungan kosmik arah dan garis edarnya plnaet itu akan “KACA BALAU” dan apabila planet-planet itu begerak menjauh atau mendekat kematahari maka tidak menutup kemungkinan arah dari planet iru akan menjadi satu garis lurus, yang diibaratkan jika serbuk besi yang acak medan gayanya di dekatkan kepada medan magnet maka serbuk tai akan kcau balau menyesuaikan diri sesuai medan kutub masing-masing, di saat klimaksnya reaktor nuklir dimatahari dan disaat semua planet menyesuaikan kutub magnet maka akan membentuk gari lurus dan dalam kedaaan satu garis lurus sebelum membntuk sirkel atau pusaran, keadaan ini yang sangat berbahaya karena jelas akan terjadi gaya tiolak-menolak dan tarik menarik antar planet, disaat itu maka energi matahari berada pada puncak reaktor-nya yang menghasilkan medan magnet terkuat karena telah menyerap medan magnet planet-planet dan menarik sebagian besar medan magnet dari planet-plenet yang berjejer (ACAK) tadi sehinga dengan mudah matahari menarik semua planet itu kembali “kepadanya” yang dikenal dengan “inalilahi wainailaihi rojiun” maka awal “kejadian sama dengan akhir kejadian” pad “kitab kejadian” Taurat dan diakhiri “awalu wal akhiru” dan memang badai matahari ini alam tidak lagi bisa membendung pemasana global sehinga matahari diibaratkan memancarkan reaktor nuklirnya hanya untuk membunuh dirinya sendiri karena cahaya panas yang dipancarkan setiap satuannano micron itu tidak lagi berguna bagi mahlkuk hidup dibumi karena sebagia hutan sebagai Filter dan 7 Atmosfir bumi dan 7 lapuisan bumi (tanah) telah hancur oleh tangan JAHILIHAYAN MANUSIA itu sendiri, maka lengkaplah ayat awal penciptaan manusia atara JIN dan Tahunanya BUkankan mereka itu hanya akan merusak bumi yang ciptakan? jawabnya diam kamu emang kamu siapa kamu aja aku yang ciptakan mau kakean cocot kebanyakan bacot dan ternayata apa yang disangkan paran ing dumadi oleh JIN terhadap manusia itu ternyata “BENAR” maka munculah Murka Allah dengan menghabisi seuam alam semesta ini kemabli menjadi “DZAT” yang maha Tunggal dan kembali dalam Keheningan “ABADI” seperti kaum JAHILIAYAHAN atau Kaum PARAHYANGAN, atau Kaum LANGITAN, yang hanya punya software, dan brainware, namun manusia itu punya hardware(JASAD) , software(JIWA) , brainware (ALLAH)

  4. Demikian sekelumit tentang iptek anak ndeso telonologi….jika ada wawasan tenatang badai matahrai ini dan akibat yang tiibulkan mongo di share atau dituturi lan tinulari agar menjadi ilmu kang manfaat bagi semua manusia, kejaba jin dan malaikat….sesunguhnya umat akhir jaman itu umat paling serdas, pinter, karena dilengkapi dengan harware software dan brainware plus ditambah “AKAL dan MATAHATI Mata BATHIN” inilah yang tidak dimuliki oleh makhluk JIN dan Mlaikat atas ciptaan-Nya maka saran saya apabila terjadi gelagat, tanda-tanda, kode-kode, kripto, tenag hari yang amat sulit maka “cepatlah bertaubat” karena golongan manusia itu lebih sempurna dari golongan JIN dan malaikat sekalipun maka manusia yang berhati malaikat disebut “Peri Kemanusiaan” jadi gak usah menungu hasil atau ultimatum Amerika dengan MATA SATU, Satelitnya karena semua sudah Kami JABBARKAN kepada kamu “Hai Muhammad” tenatng Awal kejadian, kejadiaanya, akhir kejadian bahak setelah kejadian alam semesta ini termasuk mahlkuknya yang mendiami “alam-ini” atau “alamin” karena ilmu KAMI adalah ilmu “PAS-TI ALAM-in” yang mana tidak kurang dan tidak lebih yaitu Ilmu PASTI terjadi……KIAMAT ITU

  5. Ping-balik: Buku Fenomena Cuaca Antariksa | Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s