Gerhana dan seorang muslim

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Gerhana Bulan Total 10 Desember 2011 telah kita alami. Pada khutbahnya di masjid dekat rumah saya Ustadz Sumitra (pengajar di LTQ Jendela Hati) mengingatkan jamaah bahwa menjalankan shalat gerhana juga seharusnya dipandang sebagai salah satu upaya seorang muslim untuk memelihara sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di saat umat Islam sendiri semakin banyak yang meninggalkan sunnah Nabinya, fenomena gerhana yang jarang terjadi harus bisa kita manfaatkan untuk membangkitkan semangat memelihara sunnah tersebut.

Berikut ini tulisanku tentang gerhana dalam kaitannya dengan iman seorang muslim yang pernah dimuat di Harian Republika tanggal 29 Agustus 2007 (dengan modifikasi). Semoga bermanfaat sebagai pengingat.

Gerhana dan Peningkatan Keimanan

Insya Allah, pada sore hari ini (28 Agustus 2007) kita akan menyaksikan gerhana bulan terakhir bagi kita di Indonesia. Bulan akan terbit dalam kondisi gerhana dan secara perlahan kembali terang seperti layaknya Bulan purnama pada pukul20:22WIB.

Sejak 1418 tahun yang lalu Rasulullah s.a.w telah mengajar ummatnya bagaimana menyikapi fenomena gerhana ketika terjadi gerhana Matahari cincin pada tahun 10 H (berdasarkan analisis astronomis). Imam Bukhari meriwayatkan dari Aisyah r.anha bahwa di antara khutbah Rasulullah selepas shalat gerhana adalah, “Sesungguhnya Matahari dan Bulan itu merupakan dua (tanda) dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak juga karena kehidupan seseorang. Oleh karena itu, jika kalian melihat hal tersebut maka hendaklah kalian berdo’a kepada Allah, bertakbir, shalat dan bersedekah”.

Kalau kita perhatikan, pandangan Islam tentang gerhana sangat berbeda dengan pandangan-pandangan yang mengaitkan peristiwa gerhana dengan mukjizat, mitos, dan hal-hal aneh lainnya. Islam mengajarkan bahwa gerhana tiada lain adalah kejadian alam biasa seperti halnya banjir, gempa bumi, gunung meletus dan bencana lain yang umumnya menimbulkan perasaan cemas dan takut pada diri manusia. Kejadian-kejadian seperti ini seharusnya disikapi dengan mengingat Allah lewat doa dan zikir. Gerhana bukan terjadi karena ada raksasa atau naga yang menelan matahari sehingga perlu ditakuti dengan pukulan alu dan tembakan meriam seperti yang pernah terjadi di beberapa negara di dunia.

Gerhana terjadi semata atas kekuasaan Allah tiada selain-Nya. Gerhana dan bencana alam lainnya adalah tanda-tanda dari Allah agar kita takut akan siksa-Nya sebagaimana firman-Nya, “Dan kami tidak memberi tanda-tanda itu melainkan untuk menakut-nakuti.” (Al-Israa’: 59). Dengan demikian, seharusnya fenomena gerhana menjadi motivator bagi kita untuk mengikhlaskan tauhid kepada-Nya, senantiasa taat, menjauhi maksiat dan dosa. Menjadi motivator peningkatan iman kita kepada Allah. Sungguh kita membutuhkan peningkatan iman ini terlebih karena setengah bulan lagi kita akan memasuki Bulan Suci Ramadhan. Bulan penuh kemuliaan yang tidak pantas kita sambut hanya dengan bekal pas-pasan.

Artikel terkait di blog ini:

Gerhana dan manusia

Gerhana Bulan total 10 Desember 2011

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s