Fenomena antariksa: bagaimana menyikapinya?

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Bagi yang rajin mengikuti perkembangan berita di Indonesia baik itu lewat TV maupun internet, akan menyadari bahwa belakangan ini seringkali beredar berita-berita heboh terkait dengan “fenomena alam semesta”.  Mulai langit terbelah hingga satelit dan meteor jatuh (ini yang paling sering).

Sepertinya berita-berita ini banyak bermunculan setelah isu kiamat 2012 dihembuskan oleh beberapa orang/pihak di negeri ini. Karena isu ini dikaitkan dengan keantariksaan seperti aktivitas Matahari dan benda jatuh antariksa maka LAPAN sebagai lembaga resmi yang menangani keantariksaan di Indonesia sering diminta oleh berbagai pihak untuk memberi penjelasan. Ini tantangan bagi LAPAN untuk mampu menjelaskan kepada masyarakat sekaligus peluang agar lebih dikenal.

(catatan: sebagian besar isi tulisan ini diambil dari tulisan sebelumnya berjudul “Menyongsong tahun baru 2012”)

Baca lebih lanjut

Menyongsong tahun baru 2012

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Hari ini hari terakhir di tahun 2011. Besok kita memulai hari pertama di tahun 2012. Kesempatan yang baik untuk merenungkan amal baik dan buruk kita di tahun ini dan apa yang kita persiapkan di tahun depan.

Sebuah komunitas di Bandung telah berencana melaksanakan suatu kegiatan yang  mengingatkan saya akan tulisan yang dulu saya buat berjudul “Kiamatkah di 2012”? Kali ini saya ingin berbagi tulisan tersebut dengan maksud agar jangan sampai masih ada di antara kita yang mempercayai ramalan terkait isu kiamat tersebut. Mari dengan bersemangat kita songsong tahun 2012 tanpa kecemasan yang tidak beralasan.

Baca lebih lanjut

Geminids: hujan meteor, asteroid, dan komet

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Diperkirakan tanggal 14 Desember 2011 besok menjadi puncak hujan meteor Geminid yang memasuki lingkungan Bumi sejak 4 Desember lalu hingga 17 Desember nanti.

Hujan meteor Geminid bukan hanya menarik karena seringkali menghadirkan lebih dari 100 meteor per jam (di saat puncaknya) setiap tahun namun juga karena ia membuka peluang studi lebih jauh tentang kaitan tiga komponen tata surya: hujan meteor, asteroid, dan komet.

Baca lebih lanjut

Gerhana dan seorang muslim

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Gerhana Bulan Total 10 Desember 2011 telah kita alami. Pada khutbahnya di masjid dekat rumah saya Ustadz Sumitra (pengajar di LTQ Jendela Hati) mengingatkan jamaah bahwa menjalankan shalat gerhana juga seharusnya dipandang sebagai salah satu upaya seorang muslim untuk memelihara sunnah Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Di saat umat Islam sendiri semakin banyak yang meninggalkan sunnah Nabinya, fenomena gerhana yang jarang terjadi harus bisa kita manfaatkan untuk membangkitkan semangat memelihara sunnah tersebut.

Berikut ini tulisanku tentang gerhana dalam kaitannya dengan iman seorang muslim yang pernah dimuat di Harian Republika tanggal 29 Agustus 2007 (dengan modifikasi). Semoga bermanfaat sebagai pengingat.

Baca lebih lanjut

Gerhana dan manusia

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Dari dahulu kala gerhana Matahari (dan Bulan) mempengaruhi kehidupan manusia mulai dari dongeng hingga pelaksanaan ibadah. Gerhana memang tidak hanya bermakna secara astronomi. Melalui gerhana kita juga bisa lebih dalam memahami diri kita sebagai manusia dari segi kebudayaan dan keyakinan. Meningkatnya pengetahuan kita tentang gerhana seharusnya menjadikan kita lebih arif menyikapi fenomena ini.

Tulisan ini berisi catatan kecil saya tentang keterkaitan gerhana dan manusia. Tentu saja masih sangat banyak hal yang bisa ditambahkan.

Baca lebih lanjut

Gerhana Bulan Total 10 Desember 2011

Update 10 Des 2011: penambahan tautan tentang sumber informasi lain untuk gerhana kali ini termasuk rencana pengamatan LAPAN

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Insya Allah pada 10 Desember 2011 nanti akan terjadi gerhana Bulan total yang seluruh fasenya bisa disaksikan di Asia dan Autralia (termasuk seluruh wilayah Indonesia). Fase total (seluruh permukaan Bulan berada dalam umbra Bumi) berlangsung selama 51 menit (dibanding gerhana Bulan total Juni lalu durasi total saat ini hanya separuhnya).

Bagaimana kira-kira penampakan gerhana ini?  Baca lebih lanjut

Mengenal gerhana Bulan dan Matahari

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Menurut perhitungan astronomi, insya Allah pada 10 Desember 2011 nanti akan terjadi gerhana Bulan total yang seluruh fasenya bisa terlihat di negara kita dari Sabang sampai Merauke.

Tahun ini terjadi 6 kali gerhana: 4 gerhana Matahari (semuanya parsial) dan dua gerhana Bulan (semuanya total dan terlihat dari Indonesia). Jumlah sebanyak ini (dengan kombinasi 4:2) adalah peristiwa langka. Diperkirakan hanya akan terjadi 6 kali selama abad 21.

Bagi yang ingin mengetahui cara mudah mengetahui waktu dan kondisi gerhana silakan unduh file PowerPoint Slide Show-nya di sini. Baca terus tulisan ini untuk pengantar tentang gerhana Matahari dan Bulan.  Baca lebih lanjut

Hujan meteor dan induknya

Update 1 Feb 2012:

  • penambahan tautan di akhir tulisan
  • penjelasan parameter hujan meteor selain benda induk dipindahkan ke tulisan lain

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Hujan meteor terjadi akibat bertemunya Bumi dengan sekumpulan debu antar planet sehingga terjadi fenomena meteor ketika debu-debu tersebut masuk ke atmosfer Bumi dan terbakar. Kumpulan debu tadi bisa berasal dari komet atau asteroid. Tabel berikut memperlihatkan induk (parent body, kolom terakhir) dan parameter penting lainnya untuk beberapa hujan meteor yang terkenal karena jumlahnya meteornya biasanya mencapai lebih dari 10 meteor per jam.

Artikel terkait:

Pengantar hujan meteor

Tautan:

Artikel tentang asal-usul Tata Surya di blog Pak Thomas Djamaluddin

Mengenal Populasi Near-Earth Object (NEO)

Abdul Rachman
Peneliti Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Sebulan yang lalu tepatnya 8 Nopember 2011 asteroid 2005 YU55 mendekati Bumi lebih dekat daripada Bulan. Terakhir kali asteroid seukuran mencapai jarak sedekat ini pada 1976, berikutnya diperkirakan asteroid berukuran sama akan mendekati Bumi pada 2028. Meski termasuk kelompok benda-benda yang berbahaya bagi Bumi, 2005 YU55 tidak akan bertabrakan dengan Bumi minimal hingga 100 tahun ke depan.

Asteroid 2005 YU55 termasuk kelompok benda langit alami yang melintas di dekat Bumi atau Near-Earth Object disingkat NEO. Apa sebenarnya NEO ini dan dari mana asalnya?

Baca lebih lanjut