Peran LAPAN terkait benda jatuh antariksa

Tanggal 19 Oktober lalu terdengar kabar ada benda jatuh di Kabupaten Nunukan, Kaltim. Dugaan ini timbul dari bunyi ledakan dan lubang cukup besar yang ditimbulkan. Saya mengetahui ini dari Kepala BMKG Nunukan Pak Taruna Mona yang menelpon saya sore hari itu untuk menanyakan hal ini dan meminta bantuan LAPAN. Keesokan harinya baru diperoleh informasi bahwa peristiwa yang terjadi adalah ledakan bom milik TNI Angkatan Laut yang sedang melakukan latihan rahasia.

Apa saja yang dilakukan LAPAN terkait dengan benda jatuh antariksa? Jawabannya bisa diperoleh di sini. Bagaimana LAPAN menindaklanjuti kabar adanya benda jatuh antariksa? Jawabannya silakan baca di sini.

Pemantauan satelit ROSAT

Berita tentang satelit Jerman ROSAT yang akan jatuh mulai ramai dibicarakan di internet. Rencananya LAPAN mulai intens memantau sampah antariska ini mulai 20 – 21 Oktober nanti. Silakan kunjungi situs pemantauan benda jatuh LAPAN di http://foss.dirgantara-lapan.or.id/orbit untuk perkembangan beritanya.

Artikel terkait:

https://rachmanabdul.wordpress.com/2011/10/03/satu-lagi-satelit-akan-jatuh/

Jadwal waktu shalat

Update 3 Feb 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Awal waktu shalat dalam satu tahun selalu berubah. Untuk wilayah Indonesia, sejak Agustus awal waktu shalat ini  semakin maju (mendekat) dan mencapai puncaknya pada Oktober (asar, maghrib, dan isya) hingga Nopember (dzuhur dan subuh). Contoh untuk Bandung, pada awal Agustus dzuhur dimulai pada 11:59 WIB sedang di awal Nopember nanti dzuhur dimulai pada 11:36 WIB  (maju 23 menit). Mudah-mudahan dengan menyadari ini persiapan kita ke masjid (terutama untuk shalat Jumat) lebih baik lagi.

Bagaimana sih perubahan jadwal shalat dalam setahun?

Baca lebih lanjut

Gerak semu Matahari mengelilingi Bumi

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Jika dilihat dari posisi kita saat ini, tampak jelas bahwa Matahari mengelilingi Bumi. Terbit di timur, terbenam di barat, esoknya terbit lagi di timur. Akan tetapi ilmu pengetahuan modern telah menunjukkan sebaliknya. Bumi lah yang mengelilingi Matahari.

Meski demikian, beberapa orang tetap meyakini Matahari yang mengelilingi Bumi termasuk yang berdalilkan ayat-ayat al-Quran sesuai pemahamannya. Setahu saya al-Qur’an tidak  pernah mengatakan bahwa Matahari mengelilingi Bumi. Al-Qur’an hanya mengatakan bahwa Matahari bergerak, terbit di timur, dan sebagainya seperti yang sehari-hari kita lihat.

Bagaimana sih gerak Matahari mengeliling Bumi yang diistilahkan gerak semu Matahari itu? Baca lebih lanjut

Leonid 2001: Ancaman Serius bagi Satelit Buatan

Update 1 Feb 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Pernah melihat langsung hujan meteor? Kalau ya, saya kira pengalaman itu tidak akan terlupakan. Pertama kali saya menyaksikannya saat puncak hujan meteor Leonid pada 18-19 Nopember 2001 bersama teman-teman (khususnya Hendro Setyanto dan Mas Irfan) dan beberapa wartawan di Observatorium Bosscha. Diperkirakan 500 meteor Leonid teramati di Bosscha setelah dini hari 19 Nopember.

Gambar di samping ini menunjukkan kesan yang ditangkap ketika terjadi badai Leonid pada 13 Nop 1833. Kabarnya orang-orang di Washington pada ketakutan setengah mati saat itu.

Di samping keindahannya dan, kadang, kengeriannya, hujan meteor ternyata memang memiliki potensi merusak. Mau tahu kenapa? Baca lebih lanjut

Mengenal hujan meteor

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Sejak tanggal 6 kemarin hingga 10 Oktober ini sebagian manusia di Bumi berkesempatan baik menyaksikan salah satu dari 11 hujan meteor yang populer yakni hujan meteor Draconids (dikenal juga dengan nama Giacobinids). Kok cuma sebagian manusia? Lokasi arah kedatangannya (istilahnya radiant)  yang cukup jauh di utara ekuator (54 derajat) menjadikannya kurang cocok diamati bagi manusia yang tinggal agak jauh di selatan Bumi.

Puncak hujan meteor Draconids untuk tahun ini diperkirakan pada 8 Oktober 2011. Hujan meteor ini terjadi karena Bumi melewati kumpulan debu yang berasal oleh komet 21P/Giacobini-Zinner di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Apa sebenarnya hujan meteor itu? Baca lebih lanjut

Satu lagi satelit akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di akhir bulan ini diperkirakan sebuah satelit akan menyusul satelit UARS yang  jatuh pada Sabtu 24 September 2011. Satelit ini bernama ROSAT milik Jerman yang diluncurkan memakai roket Delta II milik Amerika Serikat pada 1 Juni 1990. Misi utama ROSAT (Roentgensatellit) adalah sebagai observatorium sinar-X karena itu komponen utamanya adalah sebuah teleskop sinar-X yang mampu mengamati radiasi soft-X ray (0.1 – 2.4 keV) dari berbagai sumber di alam semesta ini.

Dibanding UARS, ukuran ROSAT memang lebih kecil dan lebih ringan (2,4 ton berbanding 5,6 ton). Akan tetapi, karena teleskop sinar-X nya didesain tahan panas (agar bisa menjalankan fungsinya dengan baik) akibatnya diperkirakan teleskop ini tidak habis terbakar di atmosfer ketika ROSAT jatuh ke Bumi dan menerjang bagian atmosfer yang relatif padat. Ini menyebabkan resiko adanya korban jiwa akibat ROSAT lebih tinggi yakni 1:2000 (berbanding 1:3200 pada UARS). Artinya, jika satelit semacam ROSAT ini jatuh sebanyak 2000 kali maka (berdasarkan perkiraan) akan ada 1 orang yang tertimpa serpihannya.

Bagaimana sejarah orbit satelit ini? Baca lebih lanjut