Mempersiapkan penerus kepemimpinan

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Saya meyakini bahwa salah satu kewajiban pemimpin adalah menyiapkan penggantinya. Sebaiknya penggantinya telah disepakati sebelum pemimpin tadi berakhir masa jabatannya. Tidak adanya pemimpin selain dapat menghambat tercapainya visi organisasi (bahkan menggagalkannya) juga dapat memancing terjadinya konflik perebutan kekuasaan.

Konflik perebutan kekuasaan juga terjadi di kalangan sahabat segera sepeninggal Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bahkan sebelum beliau dikebumikan. Padahal mereka adalah generasi terbaik umat ini. Dengan semakin terpuruknya kualitas umat, kita harus semakin berhati-hati agar fenomena ini tidak muncul kembali.

Mari kita renungkan peristiwa yang terjadi sesaat sepeninggal Rasulullah seperti tertulis dalam buku “Membangun peradaban: sejarah Muhammad saw. sejak sebelum diutus menjadi rasul” karya H.M.H. al-Hamid al-Husaini yang diterbitkan oleh Pustaka Hidayah.

Di saat kaum Muslimin sedang berduka cita dan berbela sungkawa mendengar berita wafatnya Rasulullah Saw., sejumlah kaum Anshar dari dua kabilah Aus dan Khazraj secara diam-diam menyelenggarakan pertemuan di saqifah Bani Sa’idah. Terkesan bahwa pertemuan itu diprakarsai oleh seorang tokoh Anshar, Sa’ad bin Ubadah. Meskipun ia sedang menderita sakit dan tak dapat berjalan, ia hadir dalam pertemuan digotong oleh beberapa orang pengikutnya. Karena sakit ia tidak dapat berbicara dengan suara keras. Untuk menyampaikan pembicaraannya kepada semua orang yang hadir ia dibantu oleh anak lelakinya bernama Qais bin Sa’ad sebagai penyambung lidah atau sebagai “pengeras suara”.

Di dalam pertemuan yang tidak dihadiri oleh kaum Muhajirin, termasuk para anggota keluarga Rasulullah saw. itu, Sa’ad bin Ubadah menyampaikan pendapatnya. Antara lain dikatakan:

“Kalian adalah termasuk orang-orang yang dini memeluk Islam, dan Islam tidak dimiliki oleh hanya satu kabilah Arab (yang dimaksud ialah kabilah Quraisy). Ketika Rasulullah saw. masih berada di tengah kaumnya (Quraisy) beliau mengajak mereka bersembah sujud hanya kepada Allah saja, tidak kepada yang selain Allah. Beliau berseru agar mereka meninggalkan patung-patung berhala. Akan tetapi amat sedikit yang beriman kepada beliau. Demi Allah, mereka itu tidak sanggup melindungi beliau. Mereka tidak mampu memperkokoh agama Allah dan tidak sanggup membela beliau dari serangan musuh-musuhnya.”

“Kemudian Allah melimpahkan keutamaan dan kemuliaan kepada kalian serta mengistimewakan kalian dengan agama-Nya, melimpahkan keteguhan iman sehingga kalian memiliki kesanggupan berjuang melawan musuh Allah dan Rasul-Nya. Kalian adalah orang-orang yang paling teguh dan handal dalam menghadapi musuh. Kalian merupakan orang-orang yang lebih ditakuti oleh musuh Islam dan akhirnya mereka itu mau tunduk menerima agama Allah, suka atau tidak suka. Orang-orang jauh pun akhirnya bersedia tunduk menerima pimpinan Islam hingga tiba saat Allah menepati janji-Nya kepada Nabi kalian. Karena itu pertahankanlah dan pegang teguh kepemimpinan di tangan kalian. Kalian adalah orang-orang yang berhak dan paling afdhal untuk memegang urusan itu!”

Kata-kata Sa’ad tersebut beroleh sambutan hangat dari tokoh-tokoh kaum Anshar. Mereka memberikan dukungan mutlak: “Kami tidak akan bertindak menyimpang dari perintah Anda!” teriakan mereka bersahut-sahutan. “Anda kami angkat menjadi pimpinan kami, dan demi kebaikan kaum Muslimin kami rela menerima pimpinan Anda!”

Mereka lalu bertukar pendapat mengenali kemungkinan yang akan terjadi akibat pengangkatan Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat. Apakah yang harus diperbuat jika kaum Muhajirin berpendirian bahwa mereka itulah yang berhak atas kepemimpinan umat sepeninggal Rasulullah saw.? Mereka pasti akan berkata: “Kami inilah sahabat Rasulullah dan lebih dini memeluk Islam.” Mereka tentu akan mengatakan juga: “Kamilah kerabat Rasulullah saw. dan pelindung beliau.” Mereka pun pasti akan menggugat: “Atas dasar apakah kalian menolak kepemimpinan kami sepeninggal Rasulullah?” Semua yang menghadiri pertemuan tersebut saling bertanya: bagaimana jika timbul masalah seperti itu?

Pada akhirnya mereka menyimpulkan perlunya ada usul kompromis, yaitu: “Minna amir wa minkum amir”, yaitu: kaum Anshar mempunyai pemimpin sendiri dan kaum Muhajirin pun mempunyai pemimpin sendiri. Pencetus gagasan tersebut berkata: “Jika mereka (kaum Muhajirin) bangga karena merasa turut berhijrah, kami pun berhak membanggakan diri, karena kamilah yang membela dan melindungi Nabi. Jika mereka mau menghitung-hitung jasa, kami pun dapat menghitung-hitung jasa. Kami sama sekali tidak mau mengungkit-ungkit mereka. Karena itu sebaiknya kita mempunyai pemimpin sendiri dan mereka pun mempunyai pemimpin sendiri.”
Sa’ad bin Ubadah menanggapi usulan yang kompromis itu dengan pernyataan: “ Inilah awal kelemahan!” Namun tampak jelas, bahwa semua pembicaraan dalam pertemuan itu mengarah kepada pengangkatan Sa’ad sebagai pemimpin umat.

Pembicaraan hangat mengenali masalah tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab r.a. dari seorang bernama Ma’an bin Adiy. Ketika itu Umar r.a. sedang berada di rumah Rasulullah saw. bersama sejumlah sahabat Nabi yang lain. Setelah menyampaikan berita tersebut Ma’an berkata lebih jauh: “Sampaikan saja berita itu kepada saudara-saudara kita, kaum Muhajirin. Sebaiknya kalian memilih siapa yang akan menjadi pemimpin kalian. Saya melihat sekarang pintu fitnah sudah mulai ternganga. Semoga Allah segera menutupnya kembali!”

Umar r.a. sangat resah mendengar berita buruk seperti itu. Ia bingung, tidak tahu apa yang harus diperbuat. Saat itu keluarga dan kerabat Rasulullah saw. sedang sibuk membenahi jenazah suci beliau. Ia tergopoh-gopoh mendekati Abubakar r.a. yang juga hadir di rumah Rasulullah saw. Olehnya Abubakar diajak pergi, tetapi Abubakar menjawab: “Aku sedang sibuk. Jenazah suci belum juga dimakamkan. Aku hendak kau ajak ke mana?” Umar r.a. terus mendesak dan tangan Abubakar r.a. ditarik seraya berkata: “Tak boleh tidak, Anda harus ikut!” Sambil berjalan menuju saqifah Bani Sa’idah Umar r.a. menyampaikan berita yang didengarnya dari Ma’an kepada Abubakar r.a. Betapa cemas dan gelisahnya Abubakar r.a. mendengar berita seperti itu.

Setibanya di saqifah dua orang sahabat Nabi terkemuka itu melihat saqifah penuh sesak dihadiri oleh orang-orang Anshar. Di tengah mereka Sa’ad bin Ubadah tampak berbaring telentang karena sakit. Umar r.a. yang terkenal bertemperamen tinggi, setelah mengucapkan salam kepada hadirin, ia hendak langsung berbicara tanpa basa-basi. Abubakar r.a. mencegahnya sambil berkata: “Engkau boleh berbicara panjang lebar nanti. Dengarkan dahulu apa yang hendak kukatakan. Sesudahku bicaralah sesukamu!” Umar diam. Abubakar r.a. dengan penampilannya yang tenang dan berwibawa mulai berbicara. Tidak lupa ia mengucapkan salam, syahadat dan shalawat, kemudian dengan suara lembut ia berkata:

“Kami orang-orang Quraisy adalah kerabat Rasulullah saw. Kalian (kaum Anshar), para pembela kebenaran Allah. Kalian mitra kami dalam berbuat kebajikan. Kalian orang-orang yang paling kami cintai dan kami hormati. Kalian orang-orang yang rela menerima takdir Allah dan ikhlas melihat apa yang telah dilimpahkan Allah kepada saudara-saudara kalian sendiri, kaum Muhajirin. Kalian pun merupakan orang-orang yang paling sanggup membuang jauh-jauh perasaan iri hati terhadap mereka (kaum Muhajirin). Kalian sangat terkesan di hati mereka, terutama di saat-saat menghadapi penderitaan. Kalian juga merupakan orang-orang yang berhak menjaga agar Islam tidak mengalami gangguan dan kerusakan.”

Tibalah giliran pihak Anshar berbicara: “Demi Allah, kami sama sekali tidak merasa iri hati terhadap kebajikan yang dilimpahkan Allah kepada kalian (kaum Muhajirin). Tidak ada orang yang lebih kami sukai dan kami cintai selain kalian. Jika kalian sekarang hendak mengangkat seorang pemimpin dari kalangan kalian sendiri, kami rela dan akan kami baiat. Akan tetapi dengan syarat: Bila ia sudah tiada — karena meninggal atau lainnya — tiba  giliran kami untuk mengangkat atau memilih seorang pemimpin dari kalangan kami sendiri. Bila ia sudah tiada lagi, tibalah kembali giliran kalian untuk mengangkat atau memilih seorang pemimpin dari kalangan kalian. Demikianlah seterusnya selama umat ini masih ada. Itu merupakan cara yang paling tepat untuk menjaga dan memelihara keadilan di kalangan umat Muhammad. Dengan demikian setiap orang Anshar akan dapat menjaga diri agar tidak berbuat salah sehingga ia akan ditangkap oleh orang Quraisy. Sebaliknya, tiap orang Quraisy pun akan menjaga diri agar tidak berbuat kesalahan dan ditangkap oleh orang Anshar.”

Suasana pertemuan makin lama makin hangat dan memanas. Masing-masing pihak menyatakan alasan untuk menunjukkan bahwa pihaknya sajalah yang berhak atas kepemimpinan umat. Kaum Anshar makin terang-terangan mengungkit jasa-jasa dan budi baik yang mereka berikan kepada kaum Muhajirin. Sedangkan pihak Abubakar, Umar, dan Abu Ubadah bin al-Jarrah — radhiyallahu anhum, tetap berusaha meyakinkan kaum Anshar, bahwa mereka adalah orang-orang kepercayaan Nabi saw., kerabat, dan sanak famili beliau. Keadaan lebih memanas lagi ketika Habbab bin Mundzir membakar semangat orang-orang Anshar dan beragitasi membela keutamaan mereka.

Umar dalam pembicaraannya yang terasa keras menyanggah keutamaan kaum Anshar melebihi keutamaan kaum Muhajirin. Ia berkata: “Tidak akan ada orang yang membantah bahwa kami ini adalah orang-orang yang beroleh kepercayaan Rasulullah saw. dan kerabat beliau. Hanya orang-orang yang hendak menghidupkan kebatilan sajalah yang tidak segan berbuat dosa, atau mereka itulah sebenarnya orang-orang yang celaka!” Mendengar itu Habbab bangkit berdiri menjawab: “Hai kaum Anshar, jangan kalian dengar apa yang dikatakankan mereka itu! Mereka hendak merampas hak kalian. Hanya pedang kalian sajalah yang sanggup menyelesaikan persoalan ini dan yang sanggup menundukkan orang-orang yang tidak mau tunduk. Orang yang berani membantah akan kuhancurkan batang hidungnya dengan pedangku ini!”

Ketika kaum Anshar yang berkumpul di saqifah Bani Sa’idah cenderung bersepakat bulat untuk mengangkat Sa’ad bin Ubadah sebagai pemimpin umat Islam, tampillah seorang dari kabilah Khazraj (kekuatan inti dan mayoritas kaum Anshar terletak pada dua kabilah: Aus dan Khazraj) bernama Basyir bin Sa’ad (bukan anak Sa’ad bin Ubadah) berkata mengingatkan kaum Anshar:

“Hai kaum Anshar, meskipun kita termasuk orang-orang yang dini memeluk Islam, tetapi perjuangan menegakkan agama tidak bertujuan lain kecuali untuk memperoleh keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Kita tidak ingin keridhaan Allah itu diganti dengan urusan duniawi. Muhammad Rasulullah saw. adalah orang dari Quraisy dan wajarlah jika kaumnya (Quraisy) lebih berhak mewarisi kepemimpinan beliau. Demi Allah, saya tidak melihat ada alasan untuk menentang hak mereka memegang kepemimpinan umat ini. Hendaklah kalian tetap bertakwa kepada Allah dan janganlah kalian menentang atau membelakangi mereka!”

Setelah melihat ada seorang tokoh Anshar yang membela dan mendukung kaum Muhajirin, dengan serta merta Abubakar r.a. menampilkan dua orang sahabatnya, Umar bin al-Khaththab r.a. dan Amir Abu Ubaidah bin al-Jarrah r.a., seraya berkata: “Inilah Umar dan Abu Ubaidah! Baiatlah salah satu, mana yang kalian sukai!” Akan tetapi dua orang yang ditampilkan sebagai calon itu menolak dengan alasan: “Hail Abubakar, Andalah yang mendampingi Rasulullah saw. di dalam gua, Andalah yang beliau tugasi memimpin jamaah haji sebagai Amirul-Haj, dan Anda jugalah yang beliau tugasi mengimami shalat mewakili Rasulullah saw. selama beberapa hari beliau sakit. Shalat adalah sendi agama yang paling utama. Ulurkan tangan Anda, Anda akan kami baiat…!”

Tanpa berbicara lagi Abubakar mengulurkan tangan yang segera disambut dengan jabat tangan oleh Umar dan Abu Ubaidah – radhiyallahu anhuma – sambil menyatakan baiat masing-masing. Kemudian menyusul Basyir bin Sa’ad turut membaiat Abubakar r.a. Ketika Habbab bin Mundzir melihat Basyir turut membaiat Abubakar ia berkata: “Hai Basyir, engkau itu pemecah-belah. Aku tahu, engkau berbuat seperti itu hanya terdorong oleh rasa iri terhadap anak pamanmu…!” Yakni Sa’ad bin Ubadah sebagai orang dari kabilah Aus (mungkin maksud penulis adalah Khazraj).

Usaid bin Udhair (orang dari kabilah Aus) melihat Basyir membaiat Abubakar r.a., ia (Usaid) berdiri lalu mendekati Abubakar r.a. untuk turut menyatakan baiat. Langkah yang diambil Usaid itu ternyata diikuti oleh semua orang dari kabilah Aus yang hadir. Semua menyatakan baiatnya kepada Abubakar r.a. Sa’ad bin Ubadah yang terbaring di tengah pertemuan itu tidak mereka hiraukan.

Demikian kisahnya.

Dari kisah itu kita bisa melihat betapa pentingnya keberadaan Rasulullah saw. di tengah-tengah umatnya. Kepergian beliau yang terkesan mendadak menjadikan umat terbaik itu kaget dan bingung menentukan sikap. Kebingungan itu membuka peluang bagi orang-orang munafik untuk memunculkan rasa kebanggaan pada golongannya dan ketidakpercayaan pada golongan yang lain. Rasa yang berhasil dibekukan semasa Rasulullah hidup. Beruntung Allah SWT masih merahmati umat ini sehingga akhirnya ditemukan solusinya dengan pembaiatan Abubakar r.a.

Pertanyaannya: Jika peristiwa seperti di atas kita alami kembali, dapatkah kita yakin akan memperoleh solusi yang memuaskan? Akankah Allah tetap merahmati kita? Semoga saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s