Seputar penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Di negara kita hingga saat ini terkadang masyarakat memulai dan mengakhiri ramadhan pada hari yang berbeda. Ini terutama dikarenakan penafsiran yang berbeda terhadap sabda Rasulullah Shallahu alaihi wa sallam terkait dengan hilal (sabit bulan penanda awal bulan). Di satu sisi ada yang menempatkan rukyat (melihat) hilal sebagai penentu di sisi lain ada yang mengganggap cukup dengan  hisab (menghitung) sehingga tidak perlu lagi melihat (observasi). Sebenarnya  ada jalan untuk mempertemukan kedua sisi ini kalau kita memang ingin seragam dalam hal ini.

Pada 30 Juli lalu, Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN (bidang saya) mengadakan diseminasi hasil penelitian hisab-rukyat di BPPR-LAPAN Pameungpeuk. Pada kesempatan itu saya diminta memberikan materi seputar penentuan awal bulan hijriah di Indonesia mulai dari prinsip penentuannya secara astronomi (materinya bisa diunduh di sini) hingga penyebab perbedaan dan solusi yang ditawarkan LAPAN untuk menyamakannya (ini penting untuk membuat kalender tunggal Hijriah di Indonesia; materinya bisa diunduh di sini).

Solusi yang paling mudah bagi masyarakat menyikapi perbedaan awal dan akhir Ramadhan adalah mematuhi keputusan menteri agama tentang ini. Akan tetapi, sebaiknya kepatuhan itu dilandasi ilmu bukan? Nah, materi yang saya buat bersama Pak Thomas Djamaluddin ini semoga mampu memberi sedikit pencerahan. Rekan-rekan yang ingin berdiskusi saya persilakan.

Iklan

10 comments on “Seputar penentuan awal bulan Hijriah di Indonesia

  1. apakah setiap pergantian bulan hrs ru’yat dlulu, shg kalender hanya bisa dibuat tiap bulan?

    • Bagi kalender yang memakai hisab imkan rukyat (hisab yang memperhitungan kenampakan hilal sehingga bisa dipandang sbg perpaduan hisab dan rukyat) maka tidak diwajibkan lagi untuk rukyat. Pada kalender model ini prinsip rukyat sudah diakomodasi dalam formula hisab yang digunakan.

  2. assalamu’alaikum,,

    kriteria hilal awal bulan itu apakah cukup dengan nampaknya hilal atau harus ada kriteria berapa derajat baru disebut bulan baru?

  3. wa’alaikumsalam,
    Cukup dengan nampaknya hilal. Kenampakan hilal lah yang menentukan berapa kriteria ketinggian yang tepat untuk digunakan dalam formula hisab. Jadi keduanya bukan faktor yang berdiri sendiri.

  4. saya masih awan, memperhatikan lebaran tahun ini (2011 M)
    yang saya tangkap dari media, saat itu hilal sudah nampak walaupun blm 2 derajat (mohon koreksi jika salah).

    yang ingin ditanyakan apakah tampaknya hilal seperti itu sudah bisa dikatakan besoknya bulan baru? atau ada ketinggian hilal tertentu baru bisa dikatakan besoknya bulan baru? dari mana dasarnya penentuan besarnya derajat tersebut?

  5. Setahu saya kesaksian mereka ditolak karena kurang kuat. Prinsipnya, terlalu sulit bagi mata manusia untuk mampu melihat hilal yang sangat tipis saat langit di belakangnya cukup terang oleh cahaya senja (misalnya karena ketinggian kurang dari 2 derajat saat matahari terbenam). Kontrasnya kurang. Umumnya hilal baru terlihat, jika ketinggiannya di atas 4 derajat. Orang yang bersaksi melihat hilal pada ketinggian < 2 derajat harus mampu memberikan argumen yang sangat kuat.

    Besar derajat ditentukan oleh apakah hilalnya bisa dilihat atau tidak pada ketinggian itu.

  6. Ping-balik: 29 Februari dan kalender Hijriah « Abdul Rachman's blog

  7. Ping-balik: Satu Kalender | Kepingan Kakap Paling Pojok

  8. Ping-balik: Hisab awal bulan Ramadhan dan Syawal 1436 H | Abdul Rachman's blog

  9. Ping-balik: Siklus lama puasa Ramadhan | Abdul Rachman's blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s