Mendalami makna al-Qur’an dengan ilmu tajwid

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an terletak pada bahasanya. Syaikh Manna’ al-Qaththan dalam bukunya mabaahits fii ‘uluumil qur’aan (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka al-Kautsar menjadi Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an) mengatakan,

“Setelah kita renungkan sistem bahasa dalam al-Qur’an itu kita mendapatkan bahwa semua aspek yang dikandungnya berada dalam satu batas keindahan sistem dan keelokan susunan tanpa adanya perbedaan dan penurunan derajat. Maka semakin kita mengerti bahwa al-Qur’an adalah sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia”.

Para ulama menyimpulkan bahwa membaca al-Qur’an harus dilakukan (fardhu ‘ain) sesuai kaedah-kaedahnya. Agar mampu melakukan itu maka kita perlu mempelajari ilmu tajwid. Secara bahasa, kata tajwid berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwidan yang artinya membaguskan atau membuat jadi bagus. Secara istilah tajwid berarti ilmu yang memberikan segala pengertian tentang huruf baik hak-hak huruf (haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak huruf terpenuhi (mustahaqqul harf).

Salah satu hal yang dibahas terkait mustahaqqul harf adalah hukum madd yang mengatur bagaimana panjang suatu bacaan. Contoh yang sering diangkat terkait dengan upaya kita mendalami makna al-Qur’an adalah seruan Allah kepada orang-orang mukmin untuk melaksanakan puasa pada bulan Ramadhan dalam ayat 183 surat al-Baqarah:

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa

Bacaan yaa pada yaa ayyuhalladziina termasuk madd jaiz sehingga bisa dibaca melebihi kadar 2 harakat (4 atau 5 harakat). Ini mengisyaratkan walaupun panggilan (yaa) ditujukan kepada orang-orang beriman namun bisa jadi keimanan itu belum cukup kuat sehingga jarak mereka dengan Allah masih jauh. Akibatnya Allah perlu memanggil mereka dengan panggilan untuk mereka yang jauh (yaaaa).

Salah satu hal yang dibahas terkait haqqul harf adalah bagaimana mengeluarkan huruf tepat pada tempatnya (makhraj-nya). Saya menemukan satu contoh tentang hal ini ketika membaca surat al-An’aam ayat 26:

Dan mereka melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri daripadanya,

Pada ayat ini seringkali kita temukan dua huruf yang berjauhan makhraj-nya berada pada posisi berdampingan. Nun bertemu ha pada yanhauna, ‘ain bertemu nun pada ‘anhu, dan seterusnya. Kondisi makhraj-makhraj yang berjauhan ini sesuai dengan makna ayat yang memberitahukan kita bagaimana orang-orang kafir menjauhkan diri mereka dari al-Qur’an.

Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s