Kerusakan Lingkungan Antariksa

Update 29 Jan 2012: penambahan tautan di akhir tulisan

(tulisan ini sebelumnya dimuat di Info LAPAN vol. V no. 2 2009)

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Seperti diberitakan di harian Kompas 14 Februari 2009, sebuah satelit aktif telah ditabrak oleh sampah antariksa sehingga pecah minggu lalu. Kejadian ini menimpa satelit Iridium 33 milik Amerika Serikat yang merupakan salah satu dari 66 satelit penyusun konstelasi satelit komunikasi Iridium yang dioperasikan oleh Iridium Satellite L.L.C. Ini adalah kasus pertama sebuah satelit aktif ditabrak oleh benda antariksa utuh (bukan berupa serpihan).

Kecelakaan yang dialami Iridium 33 terjadi di ketinggian sekitar 788 km di atas Siberia, Rusia pada tanggal 10 Februari 2009 pukul 23:56 WIB. Angkatan Bersenjata Ameriksa Serikat mengatakan bahwa tabrakan ini menghasilkan lebih dari 500 buah serpihan yang dapat teramati dari bumi dan terkonsentrasi ke dalam dua buah awan serpihan. Awan serpihan ini selanjutnya mengancam keberlangsungan misi 65 satelit Iridium yang tersisa beserta satelit-satelit aktif di sekitarnya.

Baca lebih lanjut

Sosialisasi pembinaan arah kiblat

Pada 18 hingga 20 Mei kemarin Kemenag RI (sebelumnya Depag RI) menyelenggarakan Sosialisasi Pembinaan Arah Kiblat tingkat Propinsi Jawa Barat bertempat di Hotel Augusta Valley, Setiabudi, Bandung. Saya menggantikan Prof. T. Djamaluddin memberi materi tentang koordinat geografis dan arah kiblat. Bagi yang berminat, materinya bisa diperoleh di sini. Semoga bermanfaat.

Artikel terkait di blog ini:

Teknik penentuan arah kiblat dan permasalahannya

Teknik penentuan arah kiblat dan permasalahannya

(tulisan ini sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Harian Republika 29 Januari 2010 dengan judul Permasalahan Kiblat)

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Beberapa media di Indonesia baru-baru ini memberitakan ketidaktepatan arah kiblat di beberapa masjid di Indonesia. Untung saja, solusinya tidak perlu dengan membongkar masjid, tapi cukup dengan mengubah arah shaf sehingga sesuai dengan hasil pengukuran terbaru.

Perkembangan teknologi telah memungkinkan masyarakat awam untuk mengetahui seberapa tepat arah kiblat di masjid mereka. Melalui situs www.qiblalocator.com , orang dengan mudah mengevaluasi arah kiblat masjid di lingkungannya.  Qibla Locator mampu menampilkan tampak atas dari sebuah masjid (yang didapatkan dari pengamatan satelit) disertai dengan garis arah kiblat sebenarnya. Dengan membandingkah arah bangunan masjid dengan garis tadi, evaluasi ketepatan arah kiblat dapat dilakukan. Teknik memanfaatkan  Qibla Locator ini memang efektif untuk mengetahui ketepatan arah kiblat untuk kasus masjid yang sudah berdiri. Bagaimana dengan masjid yang baru akan dibangun atau kita menginginkan akurasi yang lebih tinggi?

Baca lebih lanjut

Matahari untuk Penentuan Arah Kiblat

(tulisan ini sebelumnya dimuat, dengan modifikasi, di Harian Republika 27 Mei 2008 dengan judul Tentukanlah Arah Kiblat Hari Ini)

Abdul Rachman
Peneliti di Bidang Matahari dan Antariksa LAPAN

Di minggu terakhir bulan Mei ini terbuka kesempatan bagi kaum muslimin di wilayah Indonesia Barat dan Tengah untuk mengamati langsung arah kiblat. Ketika itu, mulai tanggal 26 hingga 30 Mei sekitar pukul 16:18 WIB matahari berada tepat di atas Mekkah. Jika kita menghadap ke arah matahari pada waktu itu maka kita menghadap ke arah kiblat. Hal ini mudah dipahami dengan membayangkan ada menara yang sangat tinggi menjulang dari Ka’bah ke langit mencapai matahari. Kesempatan mengamati langsung arah kiblat ini dapat kita manfaatkan untuk memerika apakah arah kiblat yang kita pakai selama ini sudah tepat atau perlu untuk dikoreksi.

Baca lebih lanjut

Mendalami makna al-Qur’an dengan ilmu tajwid

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Salah satu sisi kemukjizatan al-Qur’an terletak pada bahasanya. Syaikh Manna’ al-Qaththan dalam bukunya mabaahits fii ‘uluumil qur’aan (telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Pustaka al-Kautsar menjadi Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an) mengatakan,

“Setelah kita renungkan sistem bahasa dalam al-Qur’an itu kita mendapatkan bahwa semua aspek yang dikandungnya berada dalam satu batas keindahan sistem dan keelokan susunan tanpa adanya perbedaan dan penurunan derajat. Maka semakin kita mengerti bahwa al-Qur’an adalah sesuatu yang berada di luar batas kemampuan manusia”.

Baca lebih lanjut