Mencermati terjemahan dan tafsir al-Qur’an

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Alhamdulillah saat ini semakin banyak beredar al-Qur’an yang disertai terjemahan dan tafsirnya. Semakin banyak juga diterbitkan terjemahan kitab-kitab tafsir karya ulama-ulama besar. Semuanya ini akan sangat bermanfaat bagi peningkatan pemahaman umat Islam di negeri kita ini. Akan tetapi, kadang saya mendapati ketidakkonsistenan terjemahan dan tafsirnya.

Pada tulisan ini saya angkat kasus terkait dengan surat al-Maa’idah ayat 59 dan 60.

Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik? (QS. al-Maa'idah: 59)

Katakanlah: "Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari (orang-orang fasik) itu di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka (ada) yang dijadikan kera dan babi dan (orang yang) menyembah thaghut?." Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (QS. al-Maa'idah: 60)

Terjemahan yang digunakan di atas adalah terjemahan Departemen Agama RI (selanjutnya disingkat Depag) yang umum digunakan di Indonesia. Terjemahan ini dipakai juga dalam terjemahan kitab Tafsir as-Sa’di terbitan Pustaka Sahifa, Jakarta, cetakan pertama. Kitab aslinya berjudul Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di rahimallahu ta’ala.

Dalam terjemahan ayat 60 ada tambahan keterangan (dalam tanda kurung) bahwa kata dzaalika pada baris 1 ayat 60 (seperti tertulis di atas) menunjuk kepada orang-orang fasik yang telah disebutkan pada ayat 59 (ahli kitab yang memandang salah orang-orang mukmin). Dengan demikian, menurut terjemahan ini, yang Rasulullah maksud dengan orang-orang yang lebih buruk pembalasannya di sisi Allah bukanlah orang-orang fasik tadi melainkan orang lain (dari kalangan ahli kitab juga dalam hal ini Yahudi) yang dikutuki dan dimurkai Allah sebagaimana dinyatakan dalam QS. al-Baqarah: 65 (ditambahkan di catatan kaki terjemahan ini).

Pesan dalam terjemahan di atas berbeda dengan tafsir dalam kitab bersangkutan. Pada jilid 2 di halaman 372 dan 373 disebutkan bahwa kata dzaalika menunjuk kepada orang-orang mukmin yang dipersalahkan pada ayat 59. Sehingga yang dimaksud oleh Rasulullah dengan orang-orang yang lebih buruk pembalasannya di sisi Allah adalah orang-orang yang dikutuk dan dimurkai Allah. Termasuk di antara mereka adalah orang-orang yang dijadikan kera dan babi, orang-orang yang menyembah thagut, dan orang-orang ahli kitab yang mempersalahkan kaum muslimin di ayat 59. Syaikh as-Sa’di menyatakan bahwa “mereka itu (yakni orang-orang yang memiliki sifat-sifat buruk ini) lebih buruk tempatnya daripada orang-orang mukmin yang mana rahmat Allah dekat dengan mereka”.

Penjelasan tafsir as-Sa’di di atas sesuai dengan penjelasan dalam terjemahan tafsir Ibnu Katsir terbitan Sinar Baru Algensindo, Bandung, cetakan ke-3. Pada juz 6 halaman 539 Ibnu Katsir menjelaskan ayat 60, “Yakni apakah harus aku ceritakan kepada kalian pembalasan yang lebih buruk daripada apa yang kalian duga terhadap kami kelak di hari kiamat di sisi Allah? Yang melakukan demikian itu adalah kalian sendiri, karena semua sifat yang disebutkan oleh Allah Swt melalui firman-Nya ada pada kalian, yaitu:

Dikutuk artinya dijauhkan dari rahmat-Nya, dan dimurkai artinya Allah murka kepada mereka dengan murka yang tidak akan reda sesudahnya untuk selama-lamanya”.

Karena dalam terjemahan tafsir Ibnu Katsir juga digunakan terjemahan versi Depag maka kembali ditemukan inkonsistensi terjemahan dan tafsir.

Mana kira-kira pengertian yang lebih tepat?

Karena menilai situasinya memang memungkinkan multi-interpretasi pada makna yang dimaksud oleh kata ganti (dhamir) pada ayat 60, saya mencoba mencermati dengan logika sederhana. Kesimpulan saya penjelasan kedua kitab tafsir lebih cocok dibanding terjemahan versi Depag (tentu saja Allah yang paling mengetahui mana pengertian yang lebih tepat).

Dari teks yang tertulis, dapat kita pahami bahwa baik terjemahan Depag maupun kedua kitab tafsir sama-sama menyimpulkan bahwa dalam kedua ayat di atas Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berkata kepada ahli kitab. Nah, jika terjemahan Depag yang tepat maka apa maksud Rasulullah berkata kepada mereka (ahli kitab yang mencemooh orang-orang mukmin) tentang orang lain yang lebih buruk pembalasannya di sisi Allah? Apa faedahnya bagi mereka perkataan seperti itu?

Namun, jika kedua tafsir yang tepat maka bisa dipahami bahwa Rasulullah bermaksud menyampaikan kepada mereka akan buruknya perbuatan yang mereka lakukan kepada orang-orang mukmin seperti buruknya perbuatan leluhur mereka. Perbuatan-perbuatan buruk itulah yang mengundang laknat dan murka Allah. Jadi Rasulullah secara langsung mengatakan kepada mereka siksa yang akan mereka peroleh akibat kefasikan tersebut. Bukan memberitahu mereka dengan pembalasan yang akan diterima orang lain (seperti bisa disimpulkan dari terjemahan versi Depag).

Ternyata ada kitab yang menyimpulkan bahwa Rasulullah tidak berbicara kepada ahli kitab dalam ayat 60 melainkan kepada orang-orang mukmin. Ayat 60 memang tidak menyebutkan secara eksplisit dengan siapa Rasulullah berbicara seperti halnya ayat 59 tetapi memakai kata ganti kum. Saya temukan ini dalam Syaamil Al-Qur’an The Miracle terbitan Sygma yang memakai tafsir al-Muyassar. Tafsirnya seperti ini,

Katakanlah -wahai Muhammad- kepada orang-orang yang beriman “Maukah aku beritahukan kepada kalian (berita tentang) orang yang akan dibalas dengan balasan yang lebih berat dari orang-orang fasik pada hari kiamat? Mereka adalah para pendahulu (orang-orang Yahudi) yang dijauhkan dari rahmat Allah dan bahkan dimurkai, Allah mengubah bentuk mereka menjadi buruk, (dari manusia) menjadi monyet-monyet dan babi disebabkan kedurhakaan, kedustaan dan kesombongan mereka, sebagaimana di antara mereka ada yang menyembah tagut (segala sesuatu yang disembah selain Allah). Amat buruk tempat mereka di akhirat. Dan di dunia mereka tersesat dari jalan yang benar.

Tafsir dalam The Miracle menunjuk orang-orang fasik lah yang dimaksud oleh kata dzaalika sehingga sesuai dengan terjemahan versi Depag yang dipakainya (tidak ditemukan inkonsistensi). Karena Rasulullah berkata kepada orang-orang mukmin maka bisa kita pahami maksudnya adalah sebagai pengajaran kepada mereka agar keimanan mereka bertambah. Akan tetapi dari mana penafsir menyimpulkan bahwa orang yang akan dibalas dengan balasan yang lebih berat dari orang-orang fasik pada hari kiamat adalah “para pendahulu (orang-orang Yahudi)”? Dalam ayatnya tidak tampak indikasi ke arah ini. Lagi pula, mengapa Allah menimpakan hukuman yang lebih berat kepada “para pendahulu” dibanding kepada turunannya yang mencemooh orang-orang mukmin dan menganggapnya berada pada kesesatan yang berarti mencela agama Islam yang mulia?

Nampaknya penjelasan dalam tafsir as-Sa’di dan Ibnu Katsir (untuk ayat-ayat yang dibahas di sini) lebih rasional dan lebih mudah dipahami. Ahli kitab (dalam hal ini Yahudi) yang mempertahankan kedurhakaan mereka kepada Allah akan selalu mendapat laknat dan murka-Nya. Bukan hanya dahulu kala. Saat ini kita masih melihat dengan jelas berbagai kerusakan yang mereka timbulkan di dunia ini terutama di Palestina.

Wallahu a’lam bishshawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s