Isra’ mi’raj dan kuliah Kosmologi

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Ketika membahas ayat pertama surat Al-Israa’, Ibnu Katsir dalam tafsirnya mengutip sebuah kisah dari Siti Aisyah radhiallahu anha yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi. Di situ dikisahkan bahwa setelah Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam menceritakan pengalaman Isra’-nya dari Masjidil Haram di Mekah ke Masjidil Aqsa di Palestina lalu kembali ke Mekah pada malam yang sama kepada orang-orang, sebagian dari mereka menjadi murtad. Sulit memang mempercayai hal itu pada saat itu kecuali bagi orang-orang tertentu seperti Abu Bakar radhiallahu anhu.

Dalam perjalananku ke Makassar tahun lalu bersama keluarga tanpa disangka supir “Panther” yang ugal-ugalan memutar ceramah tentang Isra’ mi’raj. Sang muballigh (maaf saya tidak tahu namanya) membuat ilustrasi yang cukup menarik. Saat akan berangkat ke Jakarta dari Makassar di suatu pagi, seekor semut masuk ke dalam saku jasnya dan terbang bersamanya ke Jakarta. Sore harinya muballigh tadi pulang ke Makassar bersama semutnya. Sesampai di rumah semut tadi keluar dari saku dan menjumpai teman-temannya lalu bercerita bahwa ia baru saja pulang dari Jakarta. Teman-temannya tentu saja tidak percaya.

Apa hubungan kedua kisah di atas dengan kuliah kosmologi? Di kuliah kosmologi diajarkan konsep pengembangan alam semesta. Konsep ini berawal dari hasil pengamatan V. M. Slipher sejak awal abad ke-20 yang menunjukkan bahwa galaksi-galaksi yang berjarak sangat jauh dari galaksi kita Bimasakti bergerak menjauh dari kita sebagai pengamat. Semakin jauh semakin cepat lajunya sehingga pada batas tertentu melebihi laju cahaya (sudah terbukti ada bendanya saat ini). Orang awam (tapi pernah membaca teori relativitas khusus Einstein) tidak akan mempercayai pernyataan terakhir ini. Mengapa? Karena menurut teori relativitas khusus Einstein tidak mungkin ada sesuatu dalam alam semesta ini yang melebihi laju cahaya.

Ternyata, galaksi-galaksi yang sangat jauh bergerak melebihi laju cahaya bukan karena geraknya sendiri melainkan karena ruang yang ditempatinya mengembang. Inilah yang dimaksud oleh para astronom sebagai pengembangan alam semesta itu. Jadi tidak ada yang bertentangan karena teori relativitas khusus menyatakan bahwa tidak ada yang dapat berjalan menembus ruang (through space) melebihi laju cahaya. Teori ini tidak berbicara mengenai batasan gerak ruang. Sekali lagi, galaksi-galaksi itu menjauh bukan karena geraknya melainkan karena ruang yang ditempatinya mengembang sehingga jarak antar galaksi semakin berjauhan.

Alam semesta terus mengembang. Sumber: http://scienceblogs.com

Demonstrasi pengembangan alam semesta. Sumber: http://scienceblogs.com

Dalam ayat pertama surat Al-Israa’ Allah berfirman yang artinya, “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Jadi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam tidak berjalan sendiri melainkan diperjalankan oleh Allah Yang Maha Kuasa. Beliau tidak akan mampu melakukan isra’ dan mi’raj itu sendiri seperti halnya semut dan galaksi yang kita sebut di atas.

Kadang kita merasa rendah diri di hadapan manusia karena yakin tidak mampu melakukan sesuatu. Padahal dengan kesungguhan insya Allah Dia Yang Maha Kuasa akan memampukan kita melakukannya. Wallahu a’lam bishshawab.

Tautan:

Kisah perjalanan alam semesta di website langitselatan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s