Merasakan Gerhana Matahari Total

Abdul Rachman
Peneliti Sains dan Antariksa LAPAN

Gerhana matahari total 9 Maret 2016 tinggal 20 hari lagi. Peristiwa ini sangat langka dan menarik khususnya bagi warga Indonesia karena tidak ada daratan negara lain yang dilintasi jalur totalitasnya selain negeri ini. Oleh karena itu, meski durasi totalitasnya hanya 3 menit (kalah jauh dibanding GMT 11 Juni 1983 yang mencapai lebih dari 5 menit) GMT kali ini menjanjikan sesuatu yang lebih bagi bangsa Indonesia.

Apa sih kira-kira yang kita rasakan jika mengalami gerhana matahari total? Selain adanya berbagai anomali yang dikesani mata dan telinga, tubuh pun akan merasakan cuaca yang lebih dingin akibat penurunan temperatur udara di sekitarnya. Jika dibatasi pada apa yang dikesani mata, saya kira tulisan berjudul The Experience of Totality dalam buku Totality: Eclipses of  the Sun karya Mark Littmann, Ken Willcox, dan Fred Espenak cukup baik mendeskripsikan perasaan ini. Berikut ini terjemahannya yang format pdf-nya dapat diunduh dari website LAPANBaca lebih lanjut

Catatan perjalanan: Wina, Feb 2014

Abdul Rachman
Peneliti Sains Antariksa LAPAN

Sebentar lagi Subkomite Ilmiah dan Teknik (Scientific and Technical Subcommittee, STSC) PBB kembali akan bersidang.  Ini adalah Sidang yang ke-53 yang akan digelar pada 15-26 Februari nanti di Wina, Austria. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, Pusat Sains Antariksa LAPAN kembali akan mengirimkan wakilnya sebagai anggota delegasi RI. Saya sendiri telah dua kali mendapat tugas ini pada sidang ke-49 (tahun 2012) dan sidang ke-51 (tahun 2014).

Pada tulisan ini, saya ingin berbagi catatan perjalanan dalam rangka mengikuti sidang STSC ke-51 dua tahun lalu. Ya, memang sudah telah lewat dua tahun tapi semoga saja masih ada manfaatnya. Adapun catatan tentang jalannya sidang (khususnya materi-materi yang disampaikan oleh para presenter) bisa dibaca pada tulisan saya yang lain. O iya, bagi yang belum tahu, STSC adalah salah satu subkomite di bawah Komite tentang Penggunaan Antariksa untuk Tujuan Damai (UNCOPUOS) selain subkomite hukum (Legal Subcommittee). Baca lebih lanjut

Kisah dua benda jatuh pada 13 November 2015

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

(tulisan ini sebelumnya dimuat di website Pemantauan benda jatuh LAPAN)

spacecraft reentry (sumber: howstuffworks.com)Pada tanggal yang sama yakni 13 November 2015 dua benda antariksa jatuh ke Bumi. Namun hanya satu yang ramai dibahas baik di kalangan ilmuwan maupun masyarakat umum karena identitasnya yang misterius dan keunikan orbitnya. Benda yang diberi nama WT1190F ini diyakini adalah benda buatan semacam bekas roket berukuran kecil hanya 1-2 meter. Uniknya, tidak ada yang mengetahui identitas benda ini termasuk Departemen Pertahanan US yang memiliki sistem pemantau benda antariksa buatan terbaik di dunia saat ini. Baca lebih lanjut

Siklus lama puasa Ramadhan

Update 20 Juni 2015: tambahan tautan luar

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

fasting (sumber crossfitdublin.ie)Baru-baru ini seorang teman mem-posting grafik lama (durasi) puasa Ramadhan di beberapa kota di dunia dari lintang selatan hingga utara. Grafik itu menunjukkan bahwa kota Reykjavic di Islandia paling lama puasanya sedang Sydney di Australia paling cepat. Sumber grafik tersebut adalah The Huffington Post (www.huffingtonpost.com) yang mengawali artikelnya dengan kalimat “The holy month of fasting is a challenge for everyone observing Ramadan, but some Muslims have it harder than others.”

Apakah betul demikian? Baca lebih lanjut

Pengamatan optik sampah antariksa yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

David-Blanchard1_stripAlhamdulillah, diseminasi Pengetahuan Sampah dan Benda Jatuh Antariksa tahun kedua telah terselenggara kemarin 4 Juni 2015 di Pusat Sains Antariksa, Bandung. Pada kegiatan tersebut saya ditugaskan sebagai salah satu narasumber dengan materi terkait prinsip pengamatan optik dan analisis astrometri yang dilakukan di LAPAN. Materi yang saya berikan bisa diunduh di sini.

Kali ini saya ingin berbagi sebuah tulisan populer yang saya buat berjudul Pengamatan sampah antariksa yang akan jatuh pada jendela optik dan telah dimuat di Media Dirgantara LAPAN. Semoga bermanfaat.

Baca lebih lanjut

Cahaya sebagai Petunjuk

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

sumber: www.hdwallpaperpc.comTahukah Anda bahwa Majelis Umum PBB telah mencanangkan tahun 2015 ini sebagai tahun cahaya (International Year of Light, IYL)? Ini berarti PBB menyadari pentingnya membangkitkan kesadaran dunia internasional (global awareness) tentang bagaimana teknologi yang menggunakan cahaya mampu mendukung pembangunan yang berkelanjutan dan menyediakan solusi atas berbagai permasalahan di bidang energi, pendidikan, pertanian, dan kesehatan.

Secara resmi, ada empat tema IYL tahun ini yaitu: science of light, light technology, light in nature, dan light and culture. Tulisan ini mengangkat tema lain yakni light and religion (dalam hal ini Islam) yang saya ajukan untuk dimuat di buku Tafsir Ilmi: Cahaya terbitan Kementerian Agama.  Baca lebih lanjut

Hisab awal Ramadhan dan Syawal 1436 H

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Ramadhan (sumber fatayat.or.id)Alhamdulillah, sebentar lagi insya Allah kita akan kembali memasuki bulan suci Ramadhan. Semoga usia kita disampaikan pada momen yang sangat mulia ini dan kita memiliki kesanggupan untuk menghidupkannya lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Pada Ramadhan kali ini insya Allah sebagian besar umat Islam di Indonesia akan memulainya serempak. Namun, ada kemungkinan (walau tipis berdasarkan pengalaman selama ini) kita akan mengakhirinya berbeda. Tulisan ini berisi hasil perhitungan (hisab) memakai perangkat lunak Accurate Times (untuk perhitungan global) dan MoonCalc (untuk perhitungan lokal di Pelabuhan Ratu).

Semoga bermanfaat. Baca lebih lanjut

Space debris, Space weather, dan Near Earth Objects di Sidang PBB

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SSA (www.spacefoundation.org)Tiga aspek yang semakin penting dipahami terkait lingkungan di sekitar bumi adalah space debris, space weather (cuaca antariksa), dan near-earth objects (NEO). Space debris mencakup gangguan benda-benda buatan (sampah antariksa) dan alami (micrometeoroid) sedang space weather dan NEO  hanya mencakup gangguan benda-benda alami. Keberlangsungan misi keantariksaan bahkan keberlangsungan kehidupan di Bumi (demikian keyakinan sebagian orang) sangat bergantung pada kesadaran dunia internasional akan ketiga aspek yang menjadi komponen dari  Space Situational Awareness (SSA) ini. Baca lebih lanjut

Populasi sampah antariksa menjelang puncak siklus 24 Matahari

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

space junk (sumber NASA)Tahun ini dipercaya Matahari akan mencapai puncak aktivitasnya di siklus ke-24. Salah satu efek yang ditimbulkannya adalah meningkatnya jumlah benda jatuh antariksa buatan sehingga dapat memperkecil populasi sampah antariksa.

Meski demikian, dugaan bahwa puncak aktivitas Matahari kali ini akan lebih kecil dibanding puncak siklus 23 dan landainya akhir siklus tersebut ditambah dengan kemungkinan terjadinya serpihan baru karena tubrukan antar benda (dan beberapa alasan lain) menimbulkan pertanyaan seberapa signifikan pengurangan populasi sampah antariksa di tahun 2013 ini. Itu pun jika betul terjadi pengurangan. Baca lebih lanjut

Space Weather Workshop 2013 di Boulder, Colorado

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

SWW 2013Alhamdulillah, rencana mengikuti Space Weather Workshop di Boulder, Colorado tercapai juga bulan lalu. Rencana mengikuti workshop yang diadakan setahun sekali ini sebelumnya gagal karena keterlambatan keluarnya visa US tahun lalu. Seluruh biaya ditanggung oleh UCAR kecuali tiket pesawat oleh LAPAN.

Saya kira workshop di Boulder ini adalah workshop cuaca antariksa terbesar di dunia saat ini dan terlengkap topik pembahasannya. Banyak negara yang menyelenggarakan workshop semacam ini termasuk Indonesia (terakhir kali pada akhir Maret lalu). Baca lebih lanjut