Membaca lintasan benda yang akan jatuh

Abdul Rachman
Peneliti Matahari dan Antariksa LAPAN

Anda senang membaca? Jika ya, tidak usah khawatir kehabisan bahan karena pada dasarnya seluruh yang hadir di alam ini adalah bahan bacaan. Seorang muslim seharusnya selalu sadar pentingnya membaca karena ayat dari kitab sucinya yang pertama kali turun memotivasi aktivitas ini.  Bersyukurlah kita jika kita rajin membaca.

Kali ini saya ingin berbagi bahan bacaan yang tidak sepopuler bahan bacaan lainnya. Bacaan ini terkait dengan benda jatuh antariksa (lagi-lagi). Semoga bermanfaat paling tidak untuk menambah bahan bacaan kita.

(Tulisan berikut ini saya buat bersama Derian Wahyuni mahasiswi Program Studi Fisika UPI Bandung yang saat ini sedang mengambil tugas akhirnya di LAPAN. Tulisan ini telah diajukan untuk dimuat di Media Dirgantara LAPAN edisi Desember 2011.)

Ada beberapa situs internet yang memperlihatkan peta berisi lintasan benda buatan antariksa secara realtime seperti www.heavens-above.com, www.n2yo.com, dan situs pemantauan benda jatuh LAPAN di http://foss.dirgantara-lapan.or.id/orbit. Jika kita pandai membaca lintasan yang ditampilkan maka kita bisa melakukan perkiraan sendiri jika benda bersangkutan akan jatuh ke Bumi. Walaupun tentu saja perkiraan ini sangat terbatas.

Lintasan benda antariksa (selanjutnya kita sebut satelit) yang umumnya kita lihat di internet adalah proyeksi lintasan satelit tersebut di permukaan Bumi yang disebut lintasan permukaan (groundtrack). Umumnya lintasan permukaan ini berbentuk seperti gelombang sinus (sinusoidal).

Dari lintasan permukaan dapat diketahui beberapa parameter orbit seperti inklinasi (kemiringan orbit) dan periode (lamanya satelit mengelilingi Bumi dalam satu putaran). Selain itu dapat diketahui juga besarnya pergeseran titik potong lintasan permukaan dengan ekuator Bumi ketika satelit berpindah dari selatan bidang ekuator ke utara yang disebut titik simpul naik. Pergeseran ini dinamakan pergeseran titik simpul (node displacement, ΔN).

Definisi pergeseran titik simpul, ΔN

Rotasi Bumi mengakibatkannya berputar sebesar 360° perhari atau 15° perjam ke arah timur (ke kanan peta). Sehingga walaupun bidang lintasan satelit mengelilingi Bumi tidak berubah (dan memang hampir demikian), lintasan permukaan satelit akan bergeser ke arah barat (ke kiri peta).  Pergeseran titik simpul didefinisikan positif pada arah gerak satelit akibatnya pergeseran lintasan permukaan ke barat untuk tiap satu orbit adalah selisih antara 360° dan ΔN (diukur dalam satuan derajat).

Lintasan permukaan secara umum bergeser ke arah barat dari orbit ke orbit

Inklinasi adalah parameter orbit yang paling mudah diketahui. Cukup melihat lintang tertinggi atau terendah yang bisa dilewati satelit maka itulah inklinasinya (diambil nilai mutlak lintangnya). Periode (dalam jam) dapat diketahui dengan mengetahui pergeseran lintasan permukaan ke barat untuk tiap satu orbit yakni 360°- ΔN lalu membaginya dengan 15°.

Mari kita lihat sebuah contoh. Sejak akhir September 2011 telah tersiar kabar bahwa satelit ROSAT milik Jerman akan jatuh ke bumi. Dari lintasan permukaannya (dilihat di internet) dengan mudah diketahui inklinasinya yakni 52°. Ini berarti satelit ini hanya berbahaya bagi daerah yang terletak di antara 52° LU dan 52° LS. Bisa diukur bahwa ΔN nya adalah 337° (jarak antar dua titik kuning pada gambar berikut). Dengan demikian pergeseran lintasan permukaan ke barat untuk tiap satu orbit adalah 23°. Berarti periodenya adalah 1,533 jam (92 menit).

Lintasan ROSAT pada 2 Okt 2011. Peta ini bisa dipakai untuk mengetahui besar inklinasi dan pergeseran titik simpul

Pada 23 Oktober 2011 pukul 08:13 WIB situs pemantauan benda jatuh LAPAN menginformasikan bahwa ROSAT diperkirakan jatuh pada pagi itu antara pukul 07:04 WIB hingga 11:04 WIB. ROSAT melintasi Indonesia (Sumsel dan Kalbar) pada hari itu sekitar pukul 07:20 WIB. Jika setelah melintas tersebut tidak ada kabar bahwa ROSAT jatuh di Indonesia maka diperkirakan ROSAT tidak akan jatuh di Indonesia. Mengapa? Karena pada lintasan berikutnya di dekat Indonesia (yakni 1 putaran berikutnya atau 1,5 jam kemudian) ROSAT sudah bergeser ke barat Indonesia sejauh 23°. Untuk selanjutnya ROSAT tidak akan melintasi Indonesia lagi karena sudah diperkirakan jatuh sebelum akhir perkiraan yakni 11:04 WIB.

Lintasan ROSAT pada 23 Okt 2011 pk 06:40 hingga 09:46 WIB. Lintasan terakhir di Indonesia adalah lintasan berwarna kuning.

ROSAT akhirnya dinyatakan jatuh  (mengalami atmospheric reentry) pada 23 Oktober 2011 sekitar pukul 08:50 WIB di atas laut Andaman sebelum memasuki Thailand seperti diberitakan di situs pemantauan benda jatuh LAPAN keesokan harinya.

Artikel terkait:

UARS akhirnya jatuh

ROSAT akhirnya jatuh

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s